Challenge Accepted


Akhirnya ya kaaaan. Bisa juga nulis pake judul ini haha. Apa pasal? kalau mau tau cerita lengkapnya baca dulu postingan saya yang Undangan Yang Bikin Galau sama Relationship Goal Bareng kamu. Alhmdulillah yah, walaupun sepertinya saya tidak memenangi lomba itu, tapi saya sudah menang, menang melawan rasa malas *azeeeek. Dulu waktu awal-awal ngeblog saya hampir tidak percaya jika writer block itu ada. Karena faktanya memang ide untuk menulis mengalir terus seakan tak ada habisnya. Saya sampai scheduled post. Pokoknya berasa blogger ternama haha. Melihat apapun bisa jadi bahan tulisan di blog. Tulisan dari yang penting sampai yang tidak penting. Dari yang sulit dipahami bahkan oleh saya sendiri sampai postingan dengan bahasa yang runut. Pokoknya semuanya ada haha.

Entahlah, saya merasa jika jumlah tulisan blog saya ini bisa dianalogikan dengan lingkaran tahun pada batang kayu

Continue reading

Internet Jakarta yg bikin iri


Internet di zaman sekarang udah jadi kebutuhan pokok. Ga baru sekarang sih haha, sejak saya kenal internet saya langsung ketrgantungan gitu haha. Apalagi zaman sekarang ya, internet sudah sangat bisa diandalkan. Mulai dari google maps biar ga kesasar sampai aplikasi kesehatan duh banyak deh pokoknya. Tapiiiii untuk saya yang tinggal di daerah, rasanya masih jauh untuk menikmati semua kenyamanan yang ditawarkan internet. Sampai sekarang sih saya masih mengandalkan internet dari paket data. Sebenarnya pengen sih pasang broadband internet tapi mahal banget haha *ups curcol.

Internet dengan menggunakan paket data sih sebenarnya sudah lumayan. Lumayan mahal maksudnya haha. Apalagi di daerah tempat saya tinggal provider yang stabil ya telkomsel provider lain sih oke, tapi kadang kalau pas cuaca hujan jaringan menghilang hiks hiks. Menurut saya telkomsel itu bagus dan mahal. pilihan kedua saya jatuh ke axis, tapi ya gitu, siap2 makan ati kalau cuaca lagi ga bersahabat. Disitu kadang saya merasa sedih.

Boro-boro 4G, kadang dapat sinyal Edge saja sudah bersyukur haha. Baper deh kalau liat sinyal 4G, apalagi paket 4G sepertiny lebih murah ya haha Sebagai perbandingan aja nih saya screenshot hasil speedtest di Jakarta (tepatnya di Bandara Soetta) dan di rumah saya hiks. Hasilnya jauh banget haha. Tapi syukuri apa yang ada kaan yaaa. yang penting tetep update postingan haha.

 

img_0645

Ini yang di Jakarta, sampai 16 Mbps

 

 

Pekanbaru Punya Busway


Saya setuju sih kalau tolok ukur sebuah kota untuk bisa disebut sebagai kota yang maju adalah trnsportasi publiknya. Pekanbaru sebagai ibu kota provinsi sudah seyogianya punya transportasi publik yang bisa dibanggakan. Maksudnya ya nyaman, cepat, murah dan lain lain.

P_20170330_143731_p

Pekanbaru sudah lama sih punya busway, saya ga ingat pasti tapi yang jelas sudah lama hehe. Busway nya diberi nama Trans Metro Pekanbaru (TMP). Tapi ya gitu, dulu-dulu saya ga tertarik tuh naik TMP. Ga tau kenapa, kayak kurang eyecatching aja. Kurang meyakinkan saya gitu haha. Sampai akhirnya dibuka jalur TMP ke bandara SSK II. Bravo! Saya angkat dua jempol, tiga dengan kepala saya kepada Pemkot Pekanbaru dan semua pemangku kebijakan yang sudah mengambil langkah yang sangat bagus. Sungguh saya apresiasi kebijakan ini.

P_20170330_144034_p

Lumayan banyak lho Penumpang BUS TMP

Dengan adanya bus TMP yang masuki ke Bandara SSK saya jadi lebih mudah ketika hendak keluar dari bandara SSK. Ya masa sih keluar dari bandara aja susah? susah sih enggak, tapi mahal. Moda transportasi umum yang tersedia di Bnadara SSK cuma Taksi yang menurut saya tarifnya tidak masuk akal. Sementara itu moda transportasi umum lainnya dilarang masuk ke bandara SSK. Praktis saya cuma punya satu pilihan yaitu naik taksi yang tarifnya tidak masuk akal. Makanya ketika ada bus TMP benar-benar sangat membantu. Harga karcisya cuma Rp 4000 ke semua tujuan. Bus nya nyaman dan bersih. Mungkin yang perlu ditingkatkan adalah jumlah bis nya. Karena bisa rute Bandara SSK cuma ada 1 jam sekali. Kalau bisa ada stiap 15 menit sekali pasti lebih nyaman lagi kan yaaaa.

Trus yang perlu dikritisi menurut saya adalah penumpangnya yang belum mengutmakan perempuan atau lansia. Masih banyak yang cuek bebek duduk di kursi padahal banyak yang lebih pantas untuk diberi tempat duduk. Ya semoga kedepannya semakin baik aamiin.

Oh iya, selain itu kabarnya di Pekanbaru juga sudah masuk GoJek. Tapi saya belum sempat nyobain naek gojek di Pekanbaru sih. Next time saya naik kita bahas disini yaaaa.

*informasi tambahan: Bus TMP tidak beroperasi ketika sholat jumat berlangsung. Ada jeda sekitar 1-2 jam gitu.

Soft skill?


Pertama kali saya mendengar kata soft skill adalah ketika saya duduk di bangku kuliah. Saat itu sedang hangat-hangatnya alumni kampus saya dianggap memiliki soft skill yang kurang baik. Celakanya soft skill diklaim sebagai faktor penentu kesuksesan sebayak 80%. Soft skill sendiri tidak bisa diajarkan seperti layaknya ilmu-ilmu eksak. Jujur saat itu saya juga bingung dengan konsep soft skill ini. Walaupun hampir setiap hari banyak kuliah umum, seminar, ataupun kajian-kajian tentang soft skill tetap saja saya belum mengerti. Lalu sebenarnya apa sih soft skill itu? Mengapa menjadi begitu pending?. Banyak teori tentang soft skill yang bisa anda temukan di internet jadi di sini saya hanya akan menceritakan pemahaman saya tentang soft skill. Analoginya begini, saya adalah seorang dokter hewan, secara umum tugas saya adalah mengobati hewan. Berarti yang saya perlukan adalah kemampuan mengobati hewan. Tepat sekali, saya tidak akan memiliki karier yang bagus sebagai dokter hewan jika saya tidak bisa mengobati hewan dengan baik. Yang menarik adalah rumus diatas tidak berlaku di lapangan. Terlalu banyak faktor non teknis yang bisa menghambat karier kita. Disinilah soft skill berperan, bagaimana kita menghadapi masalah-masalah non teknis afar tidak menghambat karier kita. Ada banyak cara mempelajarinya, langkah awalnya adalah dengan menyadari pentingnya soft skill itu sendiri. Selalu berpikiran positif dan terbuka juga penting untuk mendapatkan soft skill yg baik.

Terjebak Nostalgia bersama IMAKUSI Bogor


1467939059240[1]

Judulnya maksa banget ya haha. Pengen banget biar ala2 raisa gitu. Nanti kita buktikan apakah judul postingan ini nyambung dengan isinya Open-mouthed smile. Jadi begini ceritanya, alhamdulillah idul fitri tahun ini (1437 H/2016) saya bisa ngumpul dengan teman-teman IMAKUSI Bogor. Kenapa acara ngumpul-ngumpul ini begitu penting karena IMAKUSI bagi saya adalah keluarga. Kurang lebih tujuh tahun saya kuliah di bogor dan IMAKUSI lah yang menjadi keluarga kecil saya di perantauan. Alhamdulillah sejauh ini waluapun tidak rutin setiap tahun tapi minimal dua tahun sekali kami masih bisa ngumpul2 sekedar mengenang masa-masa indah saat kuliah *tsaah. Selalu ada yang spesial di setiap acara kumpul2 IMAKUSI, seperti tahun ini saya jadi angkatan paling tua yang bisa hadir T.T . Sedih sih, tapi enggak juga hahaha. Jika di tahun-tahun sebelumnya obrolannya sekitar kuliah dan asmara, tahun ini sudah mulai disisipi obrolan tentang peluang usaha. Ya baru sebatas obrolan kosong sih tapi at least nambah wawasan lah. Mudah-mudahan di tahun-tahun ke depannya obrolannya bisa makin seru dan kalau saya sih pengennya bisa menyumbangkan baik itu ide atau apapun untuk Kuantan Singingi. Kemarin sempat ngobrol tentang beasiswa untuk adik-adik yang masih kuliah, mengingat biaya kuliah yang terus naik dari tahun ke tahun. Mudah-mudahan rencananya bisa cepat terealisasi. Tidak ketinggalan tentu  obrolan mengenang masa lalu. Dari membahas tukang gorengan langganan, sampe hal-hal yang kadang ga penting tapi lucu haha. Saya merasa berada di lorong waktu, seakan kembali ke  masa itu. Dan saat itu saya membathin “oh god, I really2 need the situation like this, I’m not hope theese happen every night, I think once a year is enough for me”. Semoga kebersamaan kami tetap terjaga. Saya berdoa semoga masing masing dari kami diberi keberkahan hidup, sukses dalam semua bidang yang sedang dijalani aamii. Dan sampai jumpa tahun depan, love you all :* .

Filosofi Lilin


Lilin mampu menerangi sekitarnya namun lama kelamaan dirinya akan habis

Begitulah filosofi lilin. Jangan sekali-kali menjadi seperti lilin. Jadilah lampu yang hemat energi, begitulah seharusnya. Salah satu yang saya takutkan dalam hidup saya adalah menjadi seperti lilin. Walaupun suka tidak suka jika saya tidak segera berbenah maka saya benar-benar akan menjadi seperti lilin.

Alkisah 27 Oktober 2011 (bertepatan dengan Hari Blogger Nasional) lalu saya menulis tentang motivasi saya menulis blog. Tentang mimpi-mimpi saya bersama blog. Saat itu saya adalah blogger yang maaaasih sangat muda dalam dunia blog. Umur belum setahun jagung, darah belum setangkup pinang. Status saya masih sebagai mahasiswa tingkat akhir yang jomblo  yang masih berjuang mengerjakan skripsi membuat saya memiliki waktu yang lebih dari cukup untuk menjadi seorang full time blogger. saat itu saya juga punya segunung kegalauan yang tidak akan habis jika saya tuliskan dalam blog saya. Idealisme saya sebagai agent of change juga masih sangat tebal. Keadaannya memang seperti semesta mendukung. Hingga tulisan yang terlahir saat itu ternyata berkesan bagi beberapa rekan dekat saya. Saya sangat bersyukur beberapa teman saya lantas terpacu untuk menulis dan bahkan sudah menerbitkan tulisannya dalam bentuk novel.

Kemudian saya berkaca pada diri saya sendiri. Saya bertanya kepada lubuk hati saya yag paling dalam. Apakah yang sudah saya tulis? Kita kesampingkan terlebih dahulu masalah kualitas, dari segi kuantitas tulisa saja saya sudah jauh merosot. Saya menjadi seperti lilin?.Memang saat ini semuanya sudah berbeda. Saya bukan lagi mahasiswa tingkat akhir yang punya banyak waktu untuk mengurai dan menuangkan pikiran kedalam sebuah bentuk tulisan. Saat ini saya sudah menjadi seorang profesional yang punya tanggung jawab yang lebih besar dibanding dulu. Sebenarnya cukup banyak alasan yang membuat saya tidak bisa menulis secara rutin seperti dulu tapi inilah pil pahit yang harus saya rasakan. Empat tahun yang lalu saya menyatakan bahwa tidak ada sedikitpun dari kegiatan ngeblog itu yang tidak menyenangkan kecuali menyadari bahwasannya untuk menulis blog secara rutin itu sangat sulit. Namun tidak ada gunanya bersedih hati dan menyesali apa yang sudah terjadi, yang penting saya harus segera berubah dan kembali melanjutkan mimpi saya bersama blog.

Setelah Tujuh Tahun


Pacu Jalur

2007, 2008, 2009, 2010, 2011, 2012, 2013 adalah tahun dimana saya melewatkan gelaran Pacu Jalur di kampung halaman saya yaitu di Kuantan Singingi. Tepat tujuh tahun yaitu tahun 2014 akhirnya saya berkesempatan untuk menyaksikan secara langsung gelaran Pacu Jalur. Kebayang kan gimana rasanya ketemu sama seseorang yang sangat kita kenal kemudian berpisah selama tujuh tahun dan akhirnya ketemu lagi, ya seperti itulah yang saya alami ketika kembali menyaksikan Pacu Jalur (-maaf ya bahasanya agak lebay hihi-). Tapi jujur saya memang merasa nervous juga haha. Selama ini saya hanya mendengar kabar bahwa event nasional kebanggan Kuantan Singingi ini sudah berubah menjadi lebih meriah dibandingkan tujuh tahun yang lalu. Yang ada dalam benak saya apa iya menjadi jauh lebih meriah? Kalau memang lebih meriah, semeriah apa sih gelarannya sekarang? dan berbagai pertanyaai skeptis lainnya. Ditambah lagi kali ini saya datang ke gelaran Pacu Jalur dengan status yang berbeda, saya sejak tahun 2011 telah menasbihkan diri saya sebagai enthusiast photographer (– aiiiih mateeee hahahaha-) Smile with tongue out Smile with tongue out Smile with tongue out. Jadi kali ini saya datang ke Pacu Jalur dengan sebuah misi mulia yaitu ingin mendokumentasikan Pacu Jalur dengan cara saya sendiri.

Pacu Jalur

Pacu Jalur

Persiapan sudah saya lakukan, tetapi tetap saja saat hari –H semuanya jadi agak berantakan. Berantakan yang pertama adalah saya terjebak macet hehe. Iya macet, kota Taluk Kuantan menjadi lautan manusia. Mobil saya sudah tidak bisa bergerak, semua parkiran penuh dan beberapa ruas jalan ditutup. Jangankan mengunakan mobil, berjalan kaki saja sudah sulit. Berantakan yang kedua adalah lensa tele saya yang mulai berulah. Setelah satu tahun saya beli, lensa tele murah meriah unyu-unyu Smile with tongue out si Tamron AF (70-300 mm) 1:4-5.6 sering tidak matching dengan Canon 60D saya Sad smile. Berkali-kali pesan “Err 01” muncul di layar kamera saya, rasanya saya pengen ganti lensa saya dengan lensa tele Canon seri L, tapi apalah daya hahaha. Singkat cerita saya hampir gagal (-jika tak mau disebut gagal total-) mendokumentasikan Pacu Jalur.

Pacu Jalur

pacu jalur

Tapi terlepas dari ke-rempong-an saya dan ke-berantakan-an saya saya puaaaas.Kangen selama tujuh tahun tuntas sudah. Pacu Jalur memang sudah banyak bersolek selama tujug tahun terakhir. Applause buat semua stakeholder yang terlibat dalam penyelenggaraan Pacu Jalur. Gadis kecil bernama Pacu Jalur yang saya kenal tujuh tahun lalu saya kenal sekarang sudah semakin matang dan semakin elok parasnya. Jujur sebagi masyarakat Kuantan Singingi saya bangga dengan Pacu Jalur yang terus membaik. pengunjung yang semakin ramai. Sekarang impian untuk menjadikan Pacu Jalur sebagai event internasional rsanya bukan hal yang mustahil dalam kurun waktu 20 atau 30 tahun lagi. Tapi tentunya hal itu tidak mudah. Satu pertanyaan yang harus kita renungkan bersama adalah adakah katu yang bisa kita buat menjadi jalur pada 20 atau 30 tahun mendatang?

yah, walaupun saya tidak sukses mendokumentasikan pacu jalur, mungkin memang pacu jalur tidak perlu didokumentasikan karena memang sudah terpatri dalam ingatan saya Smile

Pacu Jalur

Pacu Jalur

Pacu Jalur

Pacu Jalur

Pacu Jalur

Pacu Sampan


 

Pacu Jalur Mini

Keadaan alam mempunyai kaitan yang sangat kuat dengan kebudayaan pada satu daerah. Seperti yang terjadi di Kabupaten Indragiri Hulu (INHU). Salah satu keadaan alam yang mempengaruhi kebudayaan di Kab. Inhu adalah sungai Indragiri. Bisa diibaratkan sungai Indragiri adalah pembuluh darah nadi dari Kab. Inhu. Nama Kabupaten Indragiri Hulu sendiri juga diambil dari nama sungai yang mengaliri daerahnya. Cerita tentang kemashuran kerajaan, hikayat-hikayat kuno hampir selalu berhubungan dengan sungai ini.

Pacu Jalur Mini

Nah, kali ini saya akan bercerita tentang kebudayaan yang sangat erat dengan sungai yaitu Pacu Sampan. Pacu bisa diartikan “balap” sehingga sesuai namnya Pacu Sampan adalah balap sampan. Sama dengan pertandingan sepak bola Pacu Sampan mempertandingkan dua sampan dengan panjang sekitar 10 meter dan didayung oleh 10 orang pendayung atau yang disebut anak pacu. Sistem yang digunakan adalah sistem gugur, jadi sampan yang kalah tidak akan bertanding lagi. Pertandingan Pacu Sampan disebut “Ilir” ini dimaksudkan karena pacu sampan diadakan searah dengan arus sungai atau menuju hilir sungai. Sampan akan beradu kecepatan pada lintasan lurus dengan jarak 500 m. Setiap menepuh 100 m akan ada penanda yang disebut pancang, jadi total ada tujuh pancang termasuk pandang start dan pancang finish. Pada Pacu Sampan juga dikenal istilah “putus” tapi ini bukan putus yang sedang marak d kalangan anak muda loh ya *mrgreen*, putus adalah istilah ketika salah satu sampan telah meninggalkan lawannya sehingga buritan sampan sudah melewati anjungan sampan lawan. Akan menjadi tidak seru apabila sebuah ilir (pertandingan) sudah putus pada pancang kedua, artinya kekuatan kedua sampan tidak berimbang. Sebaliknya sangat menarik apabila sampan yang sudah putus (sudah ditinggalkan lawannya) bisa mebaikkan keadaan dan keluarsebagai pemenang. Sebenarnya masih banyak lagi hal-hal unik yang ada di Pacu Sampan, tapi saya cukupkan dulu ya sampai disini, nanti akan saya sambung lagi sekalian saya ceritakan tentang Pacu Jalur. Apa itu Pacu Jalur? tunggu di postingan saya selanjutnya Smile.

Pacu Jalur Mini

Untungnya Pernah Menulis


IMG_5581

Ini bukan pertama kalinya saya mensyukuri nikmat karena telah dibukakan hati dan pikiran saya untuk suka menulis (setidaknya menulis di blog). Banyaaaak sekali alasan yang mebuat saya harus bersyukur karena Alhamdulillah hingga saat ini saya masih menulis. Salah satunya adalah ketika saya mengalami…. apa ya, ah entahlah apa namanya tapi yang jelas saya jadi malas untuk menulis. Saya tidak mengalami writer block karena saya memang berhenti menulis, bukan kehilangan ide, tapi hanya untuk sekedar menulis komen pun saya malas. Kesibukan, naif jika saya menghilangkan faktor ini dari kemalasan saya menulis. Setahun terakhir ini memang waktu saya banyak tersita karena saya harus menjalani koas Dokter Hewan. Komitmen awal untuk terus ngeblog sebagai penghilang rasa jenuh saat koas hanya tinggal komitmen. Rencana awal akan banyak membuat tulisan di blog tentang kasus yang ditemui di koas juga tinggal rencana. Semuanya menguap begitu saja hingga tahun 2014 ini mungkin menjadi tahun yang paling tidak produktif saya dalam dunia blog. Blog yang pernah membuat saya tersenyum bangga sekarang menjadi blog yang terbengkalai. Saya mau cerita, blog kesayangan ini di masa jayanya pernah memiliki peringkat dibawah satu juta loh, dan pernah diberi rating 2 (dari skala 10) oleh google. Dan jerih payah saya itu sekarang tinggal menjadi blog yang tidak rutin ada posting baru. Blog yang tidak memberi tanggapan jika ada komentar yang masuk. Dan saya menjadi Blogger murtad yang sudah malas blogwalking. Bisa disimpulkan semua itu karena masalah keterbatasan waktu. Sekarang saya punya waktu, kesibukan saya tidak sepadat seperti saat saya menjalani koas, tapi apakah saya langsung bisa kembali menulis seperti sedia kala? jawabannya absolutely not. Saya tidak lantas langsung bisa tancap gas. Masalah baru timbul, dan ini mungkin yang disebut writer block. Bukan bahan yang tidak ada, bukan waktu yang tidak sempat, tapi entahlah, tulisan yang menurut saya tidak malu-maluin saja tidak tercipta. Entah berapa kali saya dikritik oleh pacar saya “Kok tulisanmu cuma gitu” “pendek banget” “Ga ada soulnya”. Saya cuma bisa nyengir kuda. Saya baca kembali tulisan saya , dan ternyata benar, “tulisan saya cuma gitu”.

Saya baca kembali tulisan saya dan ternyata benar, “tulisan saya cuma gitu”

Saya jadi mikir, gimana ya caranya agar cara menulis yang dulu pernah saya dapat bisa kembali lagi. Dalam pikiran saya, saya sudah menulis dengan cara menulis saya, tetapi faktanya tulisan yang saya hasilkan tidak seperti dulu lagi. Tidak seperti sebelum negara api menyerang –halah-. Saya tidak menemukan jalan keluar sampai apada suatu hari di bulan juli –yang ini bohong kok- saya membaca-baca kembali tulisan di blog saya. Lumayan banyak, walaupun masih belum tembus angka 200. Saya baca kembali dan terus baca seakan saya membaca tulisan orang lain. Di awal-awal tulisan saya masih belum konsisten, makin lama semakin terlihat pola yang saya gunakan. Dan seketika saya tersentak, saat itu saya belajar pada diri saya yang lama, diri saya sebeum diserang oleh negara api –apasiiiiiiih haha-. Terlintas dibenak saya, jika saya tidak pernah menulis saya tidak akan pernah belajar dari diri saya yang dulu. Dan setelah saya renungkan, belajar pada diri kita sendiri bisa juga dilakukan pada semua aspek kehidupan. Termasuk dalam menjalani hidup. Saya menulis diari, dan tak jarang saya menemukan solusi dari diari saya. Ketika saya menghadapi masalah yang pernah saya hadapi sebelumnya maka saya bisa mengambil perbandingan bagaimana cara saya menyiasati permasalah tersebut. Termasuk masalah sama pacar haha. Andai saja saya tidak pernah menulis, maka semua itu akan sulit dilakukan. Saya sudah sampaikan berkali kali di blog ini bahwa saya tidak bisa mengingat banyak hal. Otak manusia mempunyai keterbatasan.Dan saya termasuk orang yang tidak suka mengingat. Dan FYI baru-baru ini saya dimarahin oleh pacar saya gara-gara saya mengingat orang berdasarkan kaca matanya haha. Jadi ketika orang tersebut ganti kaca mata tanpa sepengetahuan saya sangat mungkin saya akan pangling.

Menulis bisa diartikan meninggalkan jejak. Jika saya tidak pernah menulis saya tidak akan tahu pasti sejauh mana saya sudah melangkah. Sejauh mana saya maju, atau bahkan sejauh mana saya mundur atau melenceng. Majunya saya atau mendurnya saya tentu harus ditentukan dari suatu titik yang dijadikan patokan. Nah menulis mungkin bisa diartikan sebagai membuat titik acuan sebagai penanda perjalan hidup kita. Tetap membac, membaca, membaca, dan menulis, karena tanpa membaca tulisan kita akan hampa.

Penggunaan GIS dalam dunia Satwa Liar


IMG_4629

Definisi Geographical Information System (GIS) menurut laman (www.esri.com) adalah sistem yang memungkinkan kita untuk memvisualisasikan, menganalisa, mengintepretasikan data, dan memahami data untuk mengetahui hubungan, pola, dan tren dari informasi yang kita dapatkan. GIS adalah sistem yang majemuk. Penggunaan GIS awalnya hanya terbatas pada militer saja, tetapi seiring dengan kemajuan zaman GIS sudah diaplikasikan ke banyak bidang. Di dunia satwa liar GIS sangat berguna untuk melakukan survey. Dengan GIS kita bisa melacak kembali keberadaan satwa liar untuk kemudian dianalisa. Misalnya kita ingin mengetahui penyebaran suatu spesies satwa liar tertentu di suatu daerah. Yang akan kita lakukan adalah turun ke lapangan untuk mendeteksi keberadaan satwa tersebut. Apabila kita bertemu dengan satwa yang kita maksud atau menemukan keberadaan satwa liar tersebut maka kita bisa menandai daerah tersebut mengunakan GIS. Penandaan suatu daerah menggunakan GIS menjadi sangat berguna karena penandaan ini bersifat internasional. Meskipun peralatan yang digunakan berbeda-beda tetapi akan menunjukkan titk yang sama. Setelah dilakukan penandaan langkah selanjutnya adalah analisa data menggunakan piranti lunak di komputer. Titik-titik penemuan satwa liar yang kita tandai menggunakan GIS bisa kita lihat dalam bentuk peta sehingga kita bisa melihat persebaran satwa liar dengan lebih menyeluruh. Analisa GIS tidak berhenti sampai disana. Kita bisa mengabungkan data yang kita peroleh misalnya dengn ketersediaan pakan untuk satwa tersebut. Dari penggabungan peta tersebut kita dapat menarik kesimpulan apakah ada hubungan antara penyebaran satwa liar dengan ketersediaan pakan atau tidak. Ini hanyalah salah satu contoh implementasi penggunaan GIS dalam dunia satwa liar. Masih banyak lagi kegunaan lain yang bisa dilakukan GIS untuk membantu mensejahterakan satwa liar.

IMG_4642

Workshop GIS FKH Universitas Gadjah Mada 21 Desember 2013.