Soft skill?


Pertama kali saya mendengar kata soft skill adalah ketika saya duduk di bangku kuliah. Saat itu sedang hangat-hangatnya alumni kampus saya dianggap memiliki soft skill yang kurang baik. Celakanya soft skill diklaim sebagai faktor penentu kesuksesan sebayak 80%. Soft skill sendiri tidak bisa diajarkan seperti layaknya ilmu-ilmu eksak. Jujur saat itu saya juga bingung dengan konsep soft skill ini. Walaupun hampir setiap hari banyak kuliah umum, seminar, ataupun kajian-kajian tentang soft skill tetap saja saya belum mengerti. Lalu sebenarnya apa sih soft skill itu? Mengapa menjadi begitu pending?. Banyak teori tentang soft skill yang bisa anda temukan di internet jadi di sini saya hanya akan menceritakan pemahaman saya tentang soft skill. Analoginya begini, saya adalah seorang dokter hewan, secara umum tugas saya adalah mengobati hewan. Berarti yang saya perlukan adalah kemampuan mengobati hewan. Tepat sekali, saya tidak akan memiliki karier yang bagus sebagai dokter hewan jika saya tidak bisa mengobati hewan dengan baik. Yang menarik adalah rumus diatas tidak berlaku di lapangan. Terlalu banyak faktor non teknis yang bisa menghambat karier kita. Disinilah soft skill berperan, bagaimana kita menghadapi masalah-masalah non teknis afar tidak menghambat karier kita. Ada banyak cara mempelajarinya, langkah awalnya adalah dengan menyadari pentingnya soft skill itu sendiri. Selalu berpikiran positif dan terbuka juga penting untuk mendapatkan soft skill yg baik.

Terjebak Nostalgia bersama IMAKUSI Bogor


1467939059240[1]

Judulnya maksa banget ya haha. Pengen banget biar ala2 raisa gitu. Nanti kita buktikan apakah judul postingan ini nyambung dengan isinya Open-mouthed smile. Jadi begini ceritanya, alhamdulillah idul fitri tahun ini (1437 H/2016) saya bisa ngumpul dengan teman-teman IMAKUSI Bogor. Kenapa acara ngumpul-ngumpul ini begitu penting karena IMAKUSI bagi saya adalah keluarga. Kurang lebih tujuh tahun saya kuliah di bogor dan IMAKUSI lah yang menjadi keluarga kecil saya di perantauan. Alhamdulillah sejauh ini waluapun tidak rutin setiap tahun tapi minimal dua tahun sekali kami masih bisa ngumpul2 sekedar mengenang masa-masa indah saat kuliah *tsaah. Selalu ada yang spesial di setiap acara kumpul2 IMAKUSI, seperti tahun ini saya jadi angkatan paling tua yang bisa hadir T.T . Sedih sih, tapi enggak juga hahaha. Jika di tahun-tahun sebelumnya obrolannya sekitar kuliah dan asmara, tahun ini sudah mulai disisipi obrolan tentang peluang usaha. Ya baru sebatas obrolan kosong sih tapi at least nambah wawasan lah. Mudah-mudahan di tahun-tahun ke depannya obrolannya bisa makin seru dan kalau saya sih pengennya bisa menyumbangkan baik itu ide atau apapun untuk Kuantan Singingi. Kemarin sempat ngobrol tentang beasiswa untuk adik-adik yang masih kuliah, mengingat biaya kuliah yang terus naik dari tahun ke tahun. Mudah-mudahan rencananya bisa cepat terealisasi. Tidak ketinggalan tentu  obrolan mengenang masa lalu. Dari membahas tukang gorengan langganan, sampe hal-hal yang kadang ga penting tapi lucu haha. Saya merasa berada di lorong waktu, seakan kembali ke  masa itu. Dan saat itu saya membathin “oh god, I really2 need the situation like this, I’m not hope theese happen every night, I think once a year is enough for me”. Semoga kebersamaan kami tetap terjaga. Saya berdoa semoga masing masing dari kami diberi keberkahan hidup, sukses dalam semua bidang yang sedang dijalani aamii. Dan sampai jumpa tahun depan, love you all :* .

Filosofi Lilin


Lilin mampu menerangi sekitarnya namun lama kelamaan dirinya akan habis

Begitulah filosofi lilin. Jangan sekali-kali menjadi seperti lilin. Jadilah lampu yang hemat energi, begitulah seharusnya. Salah satu yang saya takutkan dalam hidup saya adalah menjadi seperti lilin. Walaupun suka tidak suka jika saya tidak segera berbenah maka saya benar-benar akan menjadi seperti lilin.

Alkisah 27 Oktober 2011 (bertepatan dengan Hari Blogger Nasional) lalu saya menulis tentang motivasi saya menulis blog. Tentang mimpi-mimpi saya bersama blog. Saat itu saya adalah blogger yang maaaasih sangat muda dalam dunia blog. Umur belum setahun jagung, darah belum setangkup pinang. Status saya masih sebagai mahasiswa tingkat akhir yang jomblo  yang masih berjuang mengerjakan skripsi membuat saya memiliki waktu yang lebih dari cukup untuk menjadi seorang full time blogger. saat itu saya juga punya segunung kegalauan yang tidak akan habis jika saya tuliskan dalam blog saya. Idealisme saya sebagai agent of change juga masih sangat tebal. Keadaannya memang seperti semesta mendukung. Hingga tulisan yang terlahir saat itu ternyata berkesan bagi beberapa rekan dekat saya. Saya sangat bersyukur beberapa teman saya lantas terpacu untuk menulis dan bahkan sudah menerbitkan tulisannya dalam bentuk novel.

Kemudian saya berkaca pada diri saya sendiri. Saya bertanya kepada lubuk hati saya yag paling dalam. Apakah yang sudah saya tulis? Kita kesampingkan terlebih dahulu masalah kualitas, dari segi kuantitas tulisa saja saya sudah jauh merosot. Saya menjadi seperti lilin?.Memang saat ini semuanya sudah berbeda. Saya bukan lagi mahasiswa tingkat akhir yang punya banyak waktu untuk mengurai dan menuangkan pikiran kedalam sebuah bentuk tulisan. Saat ini saya sudah menjadi seorang profesional yang punya tanggung jawab yang lebih besar dibanding dulu. Sebenarnya cukup banyak alasan yang membuat saya tidak bisa menulis secara rutin seperti dulu tapi inilah pil pahit yang harus saya rasakan. Empat tahun yang lalu saya menyatakan bahwa tidak ada sedikitpun dari kegiatan ngeblog itu yang tidak menyenangkan kecuali menyadari bahwasannya untuk menulis blog secara rutin itu sangat sulit. Namun tidak ada gunanya bersedih hati dan menyesali apa yang sudah terjadi, yang penting saya harus segera berubah dan kembali melanjutkan mimpi saya bersama blog.

Setelah Tujuh Tahun


Pacu Jalur

2007, 2008, 2009, 2010, 2011, 2012, 2013 adalah tahun dimana saya melewatkan gelaran Pacu Jalur di kampung halaman saya yaitu di Kuantan Singingi. Tepat tujuh tahun yaitu tahun 2014 akhirnya saya berkesempatan untuk menyaksikan secara langsung gelaran Pacu Jalur. Kebayang kan gimana rasanya ketemu sama seseorang yang sangat kita kenal kemudian berpisah selama tujuh tahun dan akhirnya ketemu lagi, ya seperti itulah yang saya alami ketika kembali menyaksikan Pacu Jalur (-maaf ya bahasanya agak lebay hihi-). Tapi jujur saya memang merasa nervous juga haha. Selama ini saya hanya mendengar kabar bahwa event nasional kebanggan Kuantan Singingi ini sudah berubah menjadi lebih meriah dibandingkan tujuh tahun yang lalu. Yang ada dalam benak saya apa iya menjadi jauh lebih meriah? Kalau memang lebih meriah, semeriah apa sih gelarannya sekarang? dan berbagai pertanyaai skeptis lainnya. Ditambah lagi kali ini saya datang ke gelaran Pacu Jalur dengan status yang berbeda, saya sejak tahun 2011 telah menasbihkan diri saya sebagai enthusiast photographer (– aiiiih mateeee hahahaha-) Smile with tongue out Smile with tongue out Smile with tongue out. Jadi kali ini saya datang ke Pacu Jalur dengan sebuah misi mulia yaitu ingin mendokumentasikan Pacu Jalur dengan cara saya sendiri.

Pacu Jalur

Pacu Jalur

Persiapan sudah saya lakukan, tetapi tetap saja saat hari –H semuanya jadi agak berantakan. Berantakan yang pertama adalah saya terjebak macet hehe. Iya macet, kota Taluk Kuantan menjadi lautan manusia. Mobil saya sudah tidak bisa bergerak, semua parkiran penuh dan beberapa ruas jalan ditutup. Jangankan mengunakan mobil, berjalan kaki saja sudah sulit. Berantakan yang kedua adalah lensa tele saya yang mulai berulah. Setelah satu tahun saya beli, lensa tele murah meriah unyu-unyu Smile with tongue out si Tamron AF (70-300 mm) 1:4-5.6 sering tidak matching dengan Canon 60D saya Sad smile. Berkali-kali pesan “Err 01” muncul di layar kamera saya, rasanya saya pengen ganti lensa saya dengan lensa tele Canon seri L, tapi apalah daya hahaha. Singkat cerita saya hampir gagal (-jika tak mau disebut gagal total-) mendokumentasikan Pacu Jalur.

Pacu Jalur

pacu jalur

Tapi terlepas dari ke-rempong-an saya dan ke-berantakan-an saya saya puaaaas.Kangen selama tujuh tahun tuntas sudah. Pacu Jalur memang sudah banyak bersolek selama tujug tahun terakhir. Applause buat semua stakeholder yang terlibat dalam penyelenggaraan Pacu Jalur. Gadis kecil bernama Pacu Jalur yang saya kenal tujuh tahun lalu saya kenal sekarang sudah semakin matang dan semakin elok parasnya. Jujur sebagi masyarakat Kuantan Singingi saya bangga dengan Pacu Jalur yang terus membaik. pengunjung yang semakin ramai. Sekarang impian untuk menjadikan Pacu Jalur sebagai event internasional rsanya bukan hal yang mustahil dalam kurun waktu 20 atau 30 tahun lagi. Tapi tentunya hal itu tidak mudah. Satu pertanyaan yang harus kita renungkan bersama adalah adakah katu yang bisa kita buat menjadi jalur pada 20 atau 30 tahun mendatang?

yah, walaupun saya tidak sukses mendokumentasikan pacu jalur, mungkin memang pacu jalur tidak perlu didokumentasikan karena memang sudah terpatri dalam ingatan saya Smile

Pacu Jalur

Pacu Jalur

Pacu Jalur

Pacu Jalur

Pacu Jalur

Pacu Sampan


 

Pacu Jalur Mini

Keadaan alam mempunyai kaitan yang sangat kuat dengan kebudayaan pada satu daerah. Seperti yang terjadi di Kabupaten Indragiri Hulu (INHU). Salah satu keadaan alam yang mempengaruhi kebudayaan di Kab. Inhu adalah sungai Indragiri. Bisa diibaratkan sungai Indragiri adalah pembuluh darah nadi dari Kab. Inhu. Nama Kabupaten Indragiri Hulu sendiri juga diambil dari nama sungai yang mengaliri daerahnya. Cerita tentang kemashuran kerajaan, hikayat-hikayat kuno hampir selalu berhubungan dengan sungai ini.

Pacu Jalur Mini

Nah, kali ini saya akan bercerita tentang kebudayaan yang sangat erat dengan sungai yaitu Pacu Sampan. Pacu bisa diartikan “balap” sehingga sesuai namnya Pacu Sampan adalah balap sampan. Sama dengan pertandingan sepak bola Pacu Sampan mempertandingkan dua sampan dengan panjang sekitar 10 meter dan didayung oleh 10 orang pendayung atau yang disebut anak pacu. Sistem yang digunakan adalah sistem gugur, jadi sampan yang kalah tidak akan bertanding lagi. Pertandingan Pacu Sampan disebut “Ilir” ini dimaksudkan karena pacu sampan diadakan searah dengan arus sungai atau menuju hilir sungai. Sampan akan beradu kecepatan pada lintasan lurus dengan jarak 500 m. Setiap menepuh 100 m akan ada penanda yang disebut pancang, jadi total ada tujuh pancang termasuk pandang start dan pancang finish. Pada Pacu Sampan juga dikenal istilah “putus” tapi ini bukan putus yang sedang marak d kalangan anak muda loh ya *mrgreen*, putus adalah istilah ketika salah satu sampan telah meninggalkan lawannya sehingga buritan sampan sudah melewati anjungan sampan lawan. Akan menjadi tidak seru apabila sebuah ilir (pertandingan) sudah putus pada pancang kedua, artinya kekuatan kedua sampan tidak berimbang. Sebaliknya sangat menarik apabila sampan yang sudah putus (sudah ditinggalkan lawannya) bisa mebaikkan keadaan dan keluarsebagai pemenang. Sebenarnya masih banyak lagi hal-hal unik yang ada di Pacu Sampan, tapi saya cukupkan dulu ya sampai disini, nanti akan saya sambung lagi sekalian saya ceritakan tentang Pacu Jalur. Apa itu Pacu Jalur? tunggu di postingan saya selanjutnya Smile.

Pacu Jalur Mini

Untungnya Pernah Menulis


IMG_5581

Ini bukan pertama kalinya saya mensyukuri nikmat karena telah dibukakan hati dan pikiran saya untuk suka menulis (setidaknya menulis di blog). Banyaaaak sekali alasan yang mebuat saya harus bersyukur karena Alhamdulillah hingga saat ini saya masih menulis. Salah satunya adalah ketika saya mengalami…. apa ya, ah entahlah apa namanya tapi yang jelas saya jadi malas untuk menulis. Saya tidak mengalami writer block karena saya memang berhenti menulis, bukan kehilangan ide, tapi hanya untuk sekedar menulis komen pun saya malas. Kesibukan, naif jika saya menghilangkan faktor ini dari kemalasan saya menulis. Setahun terakhir ini memang waktu saya banyak tersita karena saya harus menjalani koas Dokter Hewan. Komitmen awal untuk terus ngeblog sebagai penghilang rasa jenuh saat koas hanya tinggal komitmen. Rencana awal akan banyak membuat tulisan di blog tentang kasus yang ditemui di koas juga tinggal rencana. Semuanya menguap begitu saja hingga tahun 2014 ini mungkin menjadi tahun yang paling tidak produktif saya dalam dunia blog. Blog yang pernah membuat saya tersenyum bangga sekarang menjadi blog yang terbengkalai. Saya mau cerita, blog kesayangan ini di masa jayanya pernah memiliki peringkat dibawah satu juta loh, dan pernah diberi rating 2 (dari skala 10) oleh google. Dan jerih payah saya itu sekarang tinggal menjadi blog yang tidak rutin ada posting baru. Blog yang tidak memberi tanggapan jika ada komentar yang masuk. Dan saya menjadi Blogger murtad yang sudah malas blogwalking. Bisa disimpulkan semua itu karena masalah keterbatasan waktu. Sekarang saya punya waktu, kesibukan saya tidak sepadat seperti saat saya menjalani koas, tapi apakah saya langsung bisa kembali menulis seperti sedia kala? jawabannya absolutely not. Saya tidak lantas langsung bisa tancap gas. Masalah baru timbul, dan ini mungkin yang disebut writer block. Bukan bahan yang tidak ada, bukan waktu yang tidak sempat, tapi entahlah, tulisan yang menurut saya tidak malu-maluin saja tidak tercipta. Entah berapa kali saya dikritik oleh pacar saya “Kok tulisanmu cuma gitu” “pendek banget” “Ga ada soulnya”. Saya cuma bisa nyengir kuda. Saya baca kembali tulisan saya , dan ternyata benar, “tulisan saya cuma gitu”.

Saya baca kembali tulisan saya dan ternyata benar, “tulisan saya cuma gitu”

Saya jadi mikir, gimana ya caranya agar cara menulis yang dulu pernah saya dapat bisa kembali lagi. Dalam pikiran saya, saya sudah menulis dengan cara menulis saya, tetapi faktanya tulisan yang saya hasilkan tidak seperti dulu lagi. Tidak seperti sebelum negara api menyerang –halah-. Saya tidak menemukan jalan keluar sampai apada suatu hari di bulan juli –yang ini bohong kok- saya membaca-baca kembali tulisan di blog saya. Lumayan banyak, walaupun masih belum tembus angka 200. Saya baca kembali dan terus baca seakan saya membaca tulisan orang lain. Di awal-awal tulisan saya masih belum konsisten, makin lama semakin terlihat pola yang saya gunakan. Dan seketika saya tersentak, saat itu saya belajar pada diri saya yang lama, diri saya sebeum diserang oleh negara api –apasiiiiiiih haha-. Terlintas dibenak saya, jika saya tidak pernah menulis saya tidak akan pernah belajar dari diri saya yang dulu. Dan setelah saya renungkan, belajar pada diri kita sendiri bisa juga dilakukan pada semua aspek kehidupan. Termasuk dalam menjalani hidup. Saya menulis diari, dan tak jarang saya menemukan solusi dari diari saya. Ketika saya menghadapi masalah yang pernah saya hadapi sebelumnya maka saya bisa mengambil perbandingan bagaimana cara saya menyiasati permasalah tersebut. Termasuk masalah sama pacar haha. Andai saja saya tidak pernah menulis, maka semua itu akan sulit dilakukan. Saya sudah sampaikan berkali kali di blog ini bahwa saya tidak bisa mengingat banyak hal. Otak manusia mempunyai keterbatasan.Dan saya termasuk orang yang tidak suka mengingat. Dan FYI baru-baru ini saya dimarahin oleh pacar saya gara-gara saya mengingat orang berdasarkan kaca matanya haha. Jadi ketika orang tersebut ganti kaca mata tanpa sepengetahuan saya sangat mungkin saya akan pangling.

Menulis bisa diartikan meninggalkan jejak. Jika saya tidak pernah menulis saya tidak akan tahu pasti sejauh mana saya sudah melangkah. Sejauh mana saya maju, atau bahkan sejauh mana saya mundur atau melenceng. Majunya saya atau mendurnya saya tentu harus ditentukan dari suatu titik yang dijadikan patokan. Nah menulis mungkin bisa diartikan sebagai membuat titik acuan sebagai penanda perjalan hidup kita. Tetap membac, membaca, membaca, dan menulis, karena tanpa membaca tulisan kita akan hampa.

Penggunaan GIS dalam dunia Satwa Liar


IMG_4629

Definisi Geographical Information System (GIS) menurut laman (www.esri.com) adalah sistem yang memungkinkan kita untuk memvisualisasikan, menganalisa, mengintepretasikan data, dan memahami data untuk mengetahui hubungan, pola, dan tren dari informasi yang kita dapatkan. GIS adalah sistem yang majemuk. Penggunaan GIS awalnya hanya terbatas pada militer saja, tetapi seiring dengan kemajuan zaman GIS sudah diaplikasikan ke banyak bidang. Di dunia satwa liar GIS sangat berguna untuk melakukan survey. Dengan GIS kita bisa melacak kembali keberadaan satwa liar untuk kemudian dianalisa. Misalnya kita ingin mengetahui penyebaran suatu spesies satwa liar tertentu di suatu daerah. Yang akan kita lakukan adalah turun ke lapangan untuk mendeteksi keberadaan satwa tersebut. Apabila kita bertemu dengan satwa yang kita maksud atau menemukan keberadaan satwa liar tersebut maka kita bisa menandai daerah tersebut mengunakan GIS. Penandaan suatu daerah menggunakan GIS menjadi sangat berguna karena penandaan ini bersifat internasional. Meskipun peralatan yang digunakan berbeda-beda tetapi akan menunjukkan titk yang sama. Setelah dilakukan penandaan langkah selanjutnya adalah analisa data menggunakan piranti lunak di komputer. Titik-titik penemuan satwa liar yang kita tandai menggunakan GIS bisa kita lihat dalam bentuk peta sehingga kita bisa melihat persebaran satwa liar dengan lebih menyeluruh. Analisa GIS tidak berhenti sampai disana. Kita bisa mengabungkan data yang kita peroleh misalnya dengn ketersediaan pakan untuk satwa tersebut. Dari penggabungan peta tersebut kita dapat menarik kesimpulan apakah ada hubungan antara penyebaran satwa liar dengan ketersediaan pakan atau tidak. Ini hanyalah salah satu contoh implementasi penggunaan GIS dalam dunia satwa liar. Masih banyak lagi kegunaan lain yang bisa dilakukan GIS untuk membantu mensejahterakan satwa liar.

IMG_4642

Workshop GIS FKH Universitas Gadjah Mada 21 Desember 2013.

Blusukan ala Fotografer


Istilah “blusukan” yang dipopulerkan Pak Jokowi akhir-akhir ini memang sedang booming. Para pejabat beramai-ramai melakukan gerilya politik untuk merebut simpati rakyat. Nah, ternyata tidak hanya pejabat loh yang blusukan, tetapi juga fotografer hehe. Tujuannya juga bukan untuk merebut simpati rakyat tapi untuk hunting foto khususnya street hunting. Nah, 20 oktober 2013 lalu saya mengikuti acara Jakarta Street Hunting 2013 yang diadakan oleh komunitas fotografer.net . Acara hunting foto bareng ini diadakan di kawasan kota tua dan Kampung Bandan. Kawasan kampung Bandan didominasi oleh pemukiman padat sehingga saya lebih suka menyebut acara hunting bareng ini sebagai blusukan ala fotografer. Banyak sekali objek yang menarik untuk difoto. Selain itu kegiatan ini juga menambah wawasan baru bahwa masih banyak masyarakat Indonesia yang belum sejahtera. Melakukan street hunting memang bisa menjadi pembelajaran tentang bagaimana kehidupan orang di kawasan tersebut. Hal ini akan menambah kepekaan sosial kita.

Street hunting tidak hanya memerlukan teknik fotografi yang baik, tetapi juga teknik berkomunikasi dengan objek yang kita. Saat melakukan street hunting kita harus tetap menjaga sopan santun dan privasi orang yang kita foto. Saya sendiri baru kali ini mengikuti acara street hunting semacam ini, alhasil saya masih kagok, tapi sungguh merupakan pengalamn yang luar biasa yang saya dapatkan dari acara ini. Jaya terus fotografer. net dan salam jepret!

IMG_3197

IMG_3222

IMG_3240

IMG_3214

Tentang 5S ini dan itu


IMG_3345

Duh, bosen deh lagi-lagi bahas yang kayak beginian. 5S senyum, salam, sapa, sopan dan santun. Norma di kampus ini emang ribet, se ribet mata kuliahnya haha. Semua warga kampus diharapkan untuk menerapkan 5S. Harapannya sih jelas, untuk menimbulkan rasa saling peduli satu sama lain, dengan begitu kampus akan lebih solid dan kompak. Tidak ada yang salah walaupun beberapa orang menganggap hal ini berlebihan. “Suka suka gue donk, gue ke kampus mau senyum, mau kagak terserah gue”. Yang jadi masalah pasti mahasiswa baru yang masih kikuk karena masuk kedalam lingkungan yang baru. Alih-alih diberikan kebebasan untuk beradapasi dengan cara masing-masing malahan diseragamkan dengan harus menerapkan 5S. Lah, sebenarnya tidak ada ukuran pasti 5S itu seperti apa. Sopan itu relatif, setiap orang punya takaran sendiri, lantas kenapa harus diseragamkan seperti ini?. Begini, saya baru pulang dari koasda (turun ke daerah untuk magang) dan begitu sampai di kampus sendiri dan merasa asing. Di kampus banyak orang baru yang tidak saya kenal. Oranag-orang minim ekspresi. Kalau saya senyum mereka buru-buru membalas senyuman dan buru-buru menhilang dari pandangan saya. Saya garuk-garuk kepala, apakah ada yang aneh dengan saya? sebegitu menyeramkan kah saya?. Pasti ini gara-gara aturan 5S.

Tidak ada yang salah dengan 5S. Seperti yang saya sebutkan diatas, hanya saja karena penerapan yang secara ekstrim yang membuat semua jadi terlihat buruk. Teringat ketika saya berada di posisi mereka, mahasiswa baru. Saya juga mengalami shock culture yang lumayan membuat saya stress. Setiap kali saya bertemu dengan orang di kampus saya harus senyum selebar lima jari dan membungkukkan badan sambil menyapa selamat pagi pak, selamat pagi buk, selamat pagi kak, selamat pagi dek. Membosankan. Sekarang saya sudah hampir lulus, menyandang predikat sebagai mahasiswa tertua yang masih berkeliaran di kampus dan saya sungguh gtidak enak hati diperlakukan demikian. lantas apa solusinya?

Yang diinginkan dari 5S kan sudah jelas, agar saling peduli. Nah, setiap orang punya caranya masing-masing untuk peduli. Oke, ga usah peduli lah, terlalul muluk, saya sederhanakan menjadi “agar tercipta komonikasi dua arah”. Jika komunikasi sudah lancar maka empati akan muncul, bener ga?. Jadi intinya ya ngobrol lah dengan sewajarnya. Saya mau berbagi pengalaman ketika saya magang selam empat bulan. setiap satu bulan sekali saya harus pindah tempat ke tempat yang baru. lingkungan baru dan orang-orang baru. Ya, adaptasi lagi dan lagi. Baru saja mau akrab saya sudah harus meninggalkan tempat tersebut. Nah saya akan ceritakan obrolan saya di tempat magang yang terakhir.

Namanya mas aryo. Kalau saya taksir umurnya diatas 26 tahun. Belum berkeluarga, dan sudah sejak 2008 bekerja di sebuah peternakan ayam. Hari itu saya ditugaskan untuk membantu mas aryo. Sebelumnya saya belum pernah ditugaskan di kandang yang menjadi tanggung jawab mas aryo. Awalnya kenalan, basai basi dan langsunglanjut kerja. Ternyata oh ternyata, bukan itu yang diharapkan.

“udah ga usah dibersihin, ntar saya aja yang bersihin” kata mas aryo yang bingung meihat saya dan teman saya asik membersihkan temapt minum ayam

“Ga apa2 mas, seloooooow” sahut kami

Mas aryo medekat, mulaiah dia cerita ini dan itu. Cerita tentang teman kami yang sudah lebih dulu magang di peternakan ayam ini dan lain-lain. Satu pelajaran yang penting yang saya ambil adalah bahwa mereka pengen diajak ngobrol, That’s it. Ingin berbgai pengalaman, bertukar pikiran, saling mengisi. Saya datang ke peternaka tersebut sebagai seorang calon dokter hewan. Seseorang dengan pendidikan tinggi. Sedangkan mas aryo adalah seorang buruh kandang yang tidak mengenyam pendidikan seperti saya. Jadi wajar mereka begitu antusias. Ingin menggali ilmu sebanyak banyaknya, dan memang itu yang diharapkan oleh kampus ketika mengirimkan saya ke peternakan-peternakan dan klinik hewan di seantero jabodetabek- jabar. “kadang saya bingung sama anak magang, klo lewat senyum-senyum, emangnya kita apaan disenyumin mulu, klo mau ngobrol ya ngobrol aja ga usah senyam-senyum ga jelas” *jleb. Saya tertohok mendengar perkataannya , iya memang benar, memangnya mereka apaan saya senyumin terus. Apalagi senyum yang saya lempar adalah senyum setengah terpaksa dan setengah ikhlas. Bukan senyum yang seratus persen tulus. Saya yakin jika hal ini diketahui oleh orang-orang di kampus saya mereka akan memahami bagaimana sehausnya berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya. Sekarang saya mengibaratkan mahasiswa baru adalah saya, dan civiitas kampus yang sudah lebih dulu dalah mas aryo.

“kan saya males kenalan dengan orang  baru” terserah, itu pilihan. Mau kenal atau tidak kenal tidak ada yang melarang. Tetapi pendidikan dokter hewan akan memakan waktu yang sangat panjang. Akan sangat membosankan jika kita itidak banyak berinteraksi dengan lingkungan sekitar kita. Banyak sekali hal yang merpeotkan di kampus ungu ini yang memang tidak bisa diselesaikan sendiri. di saat itulah ada orang-orang yang membantu. suapa lagi kalau bukan orang di sekitar kita.Saya sangat berharap masalah 5S ini fokus kepada masalah komunikasi yang akhirnya akan melairkan empati. Bukan menjadi takaran bagi sebuah angkatan. Angkatan tahun ini ga ada 5S nya, ga sopan sama kakak kelas. Dosen mengeluh. Yang disapa hanya dosen dan mahasiswa, staf kampus tidak disapa. Hal-hal sperti itu menurut saya bukan menambah baik, hanya akan menimbulkan dendam terhadap adik kelas selanjutnya. Yang terjadi hanyalah lingkaran setan. Sebaik apapun gagasan belum temtu diterima oleh semua orang, begitu juga dengan gagasan 5S ini. Kita tidak bisa memaksa semua orang setuju dengan pendapat kita tetapi sekali lagi saya sampaikan jika tujuan kahir dari 5S ini dapat dipahami bersama kana menjadikan kampus ungu lebih baik. Viva Veteriner, Jayalah IPB Kita!

Jalan-jalan ke Observatorium Bosscha


bosscha

Setelah minggu kemarin saya jalan-jalan ke Museum KAA sabtu ini saya jalan-jalan ke Observatorium Bosscha. Sebelumnya jangan heran apakah saya ini sedang magang atau sedang liburan karena jawabannya adalah saya sedang magang sekaligus liburan. Saya sedang magang di Kesehatan Kuda milik TNI-AD di Detasemen Kavaleri Berkuda (DENKAVKUD) di Parongpong. Sambil menyelam minum coca-cola, waktu libur saya manfaatkan untuk wisata di sekitar kota bandung. Letak Observaorium Bosscha tidak jauh dari Parongpong, saya menggunakan jasa angkutan kota dengan tarif Rp. 11.500. Untuk masalah tarif sebenarnya tergantung dari skill kita dalam hal tawar menawar hehe.

Observatorium Bosscha merupakan satu komplek pengamatan bintang, observatorium ini dikelola oleh Institut Teknologi Bandung. Jika masih ingat dengan film Petualangan Sherina ada beberapa scene yang diambil di sekitar Observatorium Bosscha. Sangat menarik sekali bisa berwisata di Observatorium Bosscha. Pengunjung diberi kesempatan untuk melihat langsung wujud teleskop terbesar di Observatorium Bosscha. Berat teleskopnya kurang lebih tujuh ton. Yang menarik adalah sistem penyangga teleskop yang dirancang agar selalu seimbang sehingga untuk menggerakkan benda seberat itu tidak diperlukan tenaga yang besar. Prinsipnya juga diadopsi pada tripod yang dgunakan untuk menyangga lensa yang berat oleh para fotografer profesional. Fotografi sendiri memang berasal dari dunia astronomi yang penerapannya digunakan untuk menangkap gambar di sekitar kita. Tidak hanya itu, lensa yang digunakan untuk teleskop ini sangat besar, diameternya 60 cm. Pabrik pembuatnya ada di Jerman yaitu Carl Zeiss yang memang dikenal sebagai penghasil lensa berkualitas hingga saat ini. Selain itu di observatorium bosscha kita bisa melihat jam bintang. Jam ini berbeda dengan jam pada umumnya yang jumlah waktunya adalah 24 jam. Sebenarnya waktu satu hari tidak 24 jam penuh, hanya 23 jam lebih. Alasan ini juga yang mendasari adanya tahun kabisat setiap empat tahun sekali karena setiap harinya kita kelebihan waktu sebanyak 4 menit, meanrik sekali bukan. Nah Intinya tempat ini sangat worth it untuk dikunjungi. Ada bisa berkunjung setiap hari kecuali hari minggu,senin dan hari libur nasional. Selamat mengunjungi Bosscha.

bosscha

bosscha

bosscha