Jangan Pelihara Satwa Liar!


Isu pelestarian satwa bukanlah isu yang baru. Isu ini sudah muncul cukup lama begitu juga di Indonesia. Banyak LSM dan para aktivis yang tak pernah lelah untuk melestarikan satwa liar, akan tetapi kehidupan satwa liar di Indonesia masih banyak yang memprihatinkan. Kalau kita lihat di pasar-pasar kita akan dengan mudahnya menemukan satwa liar yang dijual dengan bebas. Sungguh sangat memprihatinkan.

Pelestarian satwa liar memang bukan perkara mudah. Dana yang dibutuhkan untuk melestarikan satwa liar juga tidak sedikit. Sampai muncul suatu pameo dalam masyarakat “jangan berbicara tentang konservasi satwa liar jika masyarakat masih memikirkan besok mau makan apa”. Memang usaha pelestarian satwa liar kerap kali berbenturan dengan masalah “perut” atau masalah mata pencaharian seseorang atau kelompok tertentu. Bisnis perdagangan satwa liar cukup menggiurkan, tak jarang para penjual dan pembeli bertransaksi melalui media internet seperti social media. Modusnya bermacam-macam, ada yang menyamarkan nama satwa yang akan dijual. Mengecat rambut satwa sehingga satwa tersebut tidak terlihat seperti satwa liar yang dilindungi.

Continue reading

First Edition Satwaliar e-Magazine


Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmatNya sehingga e-Magazine Satwaliar edisi pertama berhasil terbit. Majalah elektronik ini merupakan media mandiri dan independent yang membahas permasalahan di sekitar satwa liar. Permasalahan yang dibahas lebih dititik beratkan pada masalah-masalah medis pada satwa liar. Akan tetapi isu-isu terkini tentang satwa liar juga akan dibahas pada majalah ini.

Dasar pemikiran dari terbitnya majalah satwaliar ini adalah untuk membuat masyarakat semakin sadar akan pentingnya peranan satwa liar dan kesehatan lingkungan dalam kesehatan seutuhnya. Kesehatan merupakan masalah yang kompleks. Kesehatan bukan hanya tanggung jawab para dokter dan praktisi kesehatan lainya, tetapi merupakan tanggun jawab semua pihak. Kolaborasi dari bebagai displin ilmu adalah hal mutlak yang diperlukan untuk menghadapi masalah kesehatan secara holistik.

Majalah digital satwaliar ini merupakan salah satu langkah yang kecil yang diharapkan dapat memberikan kontribusi kepada permasalahan yang saya paparkan di atas. Selain itu tentu saja untuk lebih memperkaya konten lokal. Majalah ini masih jauh dari kata sempurna. Ibarat pepatah umur belum setahun jagung, darah belum setampuk pinang, majalah ini masih sangat muda. Kritik, saran, dan masukan sangat diharapkan demi kebaikan majalah ini di masa mendatang.

Untuk dapat mengunduh majalah elektronik ini dapat langsung dari website satwaliar.org.

Video Promosi Himpro SATLI FKH IPB


Video ini diputar saat INTROVET angkatan 45 FKH IPB. Jika dilihat dari segi artistiknya mungkin video ini jauh dari sempurna, namun video ini bagi saya penuh dengan kenangan. Beberapa scene saya terlibat di dalamnya. Penasaran dengan videonya? check this out!

Precocial dan Altricial pada Burung


altricial bird

Pernahkah anda melihat anak burung gereja yang baru menetas?. Anak burung gereja yang baru menetas sangat lemah, mereka belum bisa mencari makan sendiri, bahkan mereka belum bisa mematuk makanannya sendiri. Coba bandingkan dengan anak ayam yang baru menetas. Tidak lama setelah mereka menetas mereka sudah bisa berjalan dan bisa mematuk makanannya sendiri. Anak burung maleo yang baru menetas malah lebih hebat lagi, mereka dapat dapat bertahan hidup tanpa induknya. Jika kita lihat dari sisi taksonominya, ketiga spesies ini dikelompokkan dalam kelas yang sama yaitu kelas aves.

Perbedaan ini merupakan strategi dari masin-masing spesies untuk mempertahankan jenisnya. Secara umum strategi pasca menetas ini dibagi menjadi precocial, semiprecocial, semiatricial dan altricial. Mari kta bahas satu persatu:

Continue reading

Monyet = Kera?


Macaca fasicularis termasuk monyet

Dalam kehidupan sehari-hari penyebutan kera dan monyet sering disalahkan. Terkadang monyet disebut kera dan kera disebut monyet. Keduanya memang sama-sama anggota ordo primata, tetapi keduanya merupakan sesuatu yang berbeda.

Monyet dalam bahas inggris disebut “Monkey” sedangkan kera dalam bahasa inggris disebut “Ape”. Sedangkan menurut KBBI (data saya ambil dari Kamus Bahasa Indonesia Online)

ke.ra
[n] (1) suku paling sempurna dr kelas binatang menyusui, bentuk tubuhnya mirip manusia, berbulu pd seluruh tubuhnya, memiliki otak yg relatif lebih besar dan lebih cerdas dp hewan lain, termasuk hewan pemakan buah, biji-bijian, dsb; Anthropoidea; (2) monyet, terutama yg berekor panjang; Macacus synomolgus

mo.nyet
[n] kera yg bulunya berwarna keabu-abuan dan berekor panjang, kulit mukanya tidak berbulu, begitu juga telapak tangan dan telapak kakinya; Macacus synomolgus

Pongo pygmaeus abelii (Orang Utan Sumatra) termasuk kelompok kera

Menurut saya ini membingungkan, karena pada arti kata monyet disebutkan bahwa monyet adalah kera. Saya sendiri tidak ahli di bidang bahasa, jika nanti terdapat kesalahan mohon dikoreksi.

Saya sendiri mengetahui perbedaan kera dan monyet dengan jelas setelah saya kuliah di FKH IPB (Fakultas Kedokteran Hewan IPB). Untuk membedakan keduanya kita dapat melihat ekornya, apabila memiliki ekor maka disebut monyet dan apabila tidak memiliki ekor disebut kera. Tetapi sebenarnya perbedaan ini tidak belaku disemua kondisi, penyebutan kera dan monyet yang saya maksud disini lebih berdasarkan taksonomi spesies yang akan kita sebut.

Kata kera digunakan untuk menyebut spesies yang termasuk dalam “Great Apes” yaitu Gorila, Orang Utan, Simpanse, serta Bonobo. Sedangkan Monyet biasanya digunakan untuk menyebut Monyet Ekor Panjang, Beruk dan lain-lain.

Jadi bagaimana dengan peribahasa “kera menjadi monyet” yang mempunyai arti “sama saja”?. (Agung Sudomo)