Patogenesa Ketosis pada Sapi


sumber

Ketosis adalah suatu keadaan dimana badan-badan keton menumpuk di dalam tubuh. Penyakit ini termasuk penyakit metabolik. Ketosis biasanya terjadi pada masa awal laktasi. Pada masa ini terjadi keseimbangan negatif energi terutama pada sapi dengan produksi susu yang tinggi. Keseimbangan negatif ini memaksa sapi untuk melakukan glukoneogenesis agar dapat mencukupi kebutuhan energi dalam tubuh. Dalam proses glukoneogenesis dimobilisasi sel-sel adiposa. Mobilisasi sel-sel adiposa diikuti dengan meningkatnya level NEFA (Non Esterified Fatty Acid) dalam darah yang kemudian akan dirubah menjadi badan-badan keton di hati. Badan-badan keton adalah aseton, aseto-asetat, dan β-hydroxybutyrate (BHB). Secara pasti penyebab ketosis belum diketahui, namun selalu benrhubungan dengan peningkatan glukosa yang meningkat dan mobilisasi sel lemak.

Penyebab ketosis pada awal laktasi berbeda dengan ketosis pada puncak produksi susu. Ketosis pada awal laktasi banyak dihubungkan dengan fatty liver sedangkan ketosis pada puncak produksi susu disebabkan karena pakan yang diberikan tidak cukup baik dari segi kualitas maupun kuantitas.

Ketosis dapat dibedakan menjadi ketosis primer dan ketosis sekunder, ketosis primer adalah ketosis yang terjadi tanpa ada gejala patologis dalam tubuh sapi, sedangkan ketosis sekunder adalah ketosis yang terjadi akibat pengaruh dari keadaan patologis pada tubuh sapi tersebut.

Bahan Bacaan

http://vet02ugm.wordpress.com/2009/04/10/ketosis-acetonemia-pada-sapi-perah/

http://dawibo.wordpress.com/2011/04/02/ketosis-pada-sapi/

http://budaxperah.wordpress.com/2009/03/28/ketosis-acetonemia-pada-sapi-perah/

http://www.merckvetmanual.com/mvm/index.jsp?cfile=htm/bc/80900.htm

http://koranpdhi.com/buletin-edisi1/edisi1-ketosis.htm

Advertisements

Diagnosa Kebuntingan pada Ruminansia Besar


Diagnosa kebuntingan pada ruminansia besar memiliki nilai ekonomi yang cukup besar. Sangat penting bagi peternak untuk mengetahui apakah ternaknya buntung atau tidak. Keterlambatan kebuntingan akan menyebabkan keurgian pada peternak, kerugian berupa kerugian biaya pakan yang harus dikeluarkan dan kerugian waktu.

Diagnosa kebuntingan dapat dilakukan dengan beberapa cara:

  1. Betina menolak untuk dikawini. Cara ini merupakan cara tradisional untuk mendiagnosa kebuntingan, caranya dengan mengamati 21  hari setelah indukan sapi dikawinkan atau diinseminasi, jika indukan menolak untuk dikawinkan maka indukan tersebut diduga bunting. Cara ini biasanya dilakukan untuk mencegah inseminasi pada indukan bunting yang akan menyebabkab aborsi.
  2. Pengukuran kadar progesteron juga dapat digunakan sebagai diagnosa kebuntingan pada sapi. Peeriksaan dengan cara ini meminimalkan pengaruh yang dapat timbul akibat pemeriksaan dengan cara palpasi rektal.
  3. Pemeriksaan protein spesisfik pada kebuntingan (pregnancy-spesific protein). Untuk memeriksa keberadaan portein ini dilakukan pemeriksaan secara imunologis pada serum hewan yang diduga bunting.
  4. Pemeriksaan dengan menggunakan USG. Pemeriksaan menggunakan USG dapat dilakukan setelah hari kke-17.
  5. Palpasi fetus. Cara ini merupakan cara yang langsung memeriksa adanya fetus dalam uterus. Cara ini aman dilakukan namun dapat dilakukan setelah fetus berumur 40 hari.

Bahan Bacaan

Ball, PJH & AR Peters. Reproduction in Cattle 3rd Edition. UK: Blackwell Publishing

http://www.articlesbase.com

Biosecurity dan Biosafety


Biosafety dan biosecurity merupakan dua hal yang saling berkaitan. Keduanya mempunyai tujuan untuk menjamin keamanan dari bahaya biologis. Tetapi meski tujuannya sama biosecurity dan biosafety merupakan dua hal yang berbeda. Biosecurity adalah usaha untuk menjaga suatu daerah dari masuknya agen penyakit, menjaga tersebarnya agen penyakit dari daerah tertentu, dan menjaga agar suatu penyakit tidak menyebar di dalam daerah tersebut. Sedangkan biosafety adalah usaha yang dilakukan agar orang yang bekerja dengan bahan biologi berbahaya terlindungi dari bahan bahaya bahan biologi yang ditanganinya.

Upik K. Hadi menyebutkan secara sederhana biosecurity adalah usaha untuk melindungi kehidupan. Biosecurity mempunyai peranan penting dalam pencegahan penyebaran penyakit. Dalam suatu usaha peternakan biosecurity merupakan sesuatu sistem yang dapat melokalisasi agen penyakit sehingga tidak menyebar ke tempat lain atau di dalam peternakan itu snediri.

Berbeda dengan biosecurity, biosafety adalah suatu konsep yang mengamankan orang yang bekerja dengan suatu bahan biologis. Misalnya orang yang bekerja dengan suatu virus yang dapat menimubulkan penyakit berbahaya maka orang tersebut harus mengunakan sarung tangan. Jadi biosecurity adalah suatu konsep yang mengatur orang yang bekerja atau bersnetuhan dengan objek bilogis berbahaya agar terhindar dari bahaya objek biologis tersebut.

Biosafety dan biosecurity biasanya dijalankan secara bersamaan. Karena pada intinya biosceurity juga mendukung terlaksananya biosafety, begitu juga sebaliknya. (Agung Sudomo).

BSE (Bovine Spongiform Encephalopathy)


BSE (Bovine Spongiform Encephalopathy) atau disebut juga Mad Cow atau sapi gila merupakan penyakit yang bersifat progressif, fatal, neurologic pada sapi dewasa. BSE disebabkan oleh agen penyakit yang disebut prion. Penyakit BSE ini dikelompokkan dalam satu kelompok dengan penyakit Creutzfeldt-Jakob Disease (CJD) pada manusia dan Scrapie pada domba dan kambing yang biasanya disebut Transmissible Spongiform Encephalopathies (TSEs). Secara eksperimental, BSE dapat ditransmisikan ke mencit, domba, babi, sapi, monyet, mink, dan marmoset. BSE pertama kali didiagnosa di Britania Raya pada tahun 1986 dengan temuan pada preparat histopatologi pada otak yang terinfeksi. Diduga penyebab adanya prion ini adalah penggunaan meat bone meal pada pakan sapi.