Penggunaan GIS dalam dunia Satwa Liar


IMG_4629

Definisi Geographical Information System (GIS) menurut laman (www.esri.com) adalah sistem yang memungkinkan kita untuk memvisualisasikan, menganalisa, mengintepretasikan data, dan memahami data untuk mengetahui hubungan, pola, dan tren dari informasi yang kita dapatkan. GIS adalah sistem yang majemuk. Penggunaan GIS awalnya hanya terbatas pada militer saja, tetapi seiring dengan kemajuan zaman GIS sudah diaplikasikan ke banyak bidang. Di dunia satwa liar GIS sangat berguna untuk melakukan survey. Dengan GIS kita bisa melacak kembali keberadaan satwa liar untuk kemudian dianalisa. Misalnya kita ingin mengetahui penyebaran suatu spesies satwa liar tertentu di suatu daerah. Yang akan kita lakukan adalah turun ke lapangan untuk mendeteksi keberadaan satwa tersebut. Apabila kita bertemu dengan satwa yang kita maksud atau menemukan keberadaan satwa liar tersebut maka kita bisa menandai daerah tersebut mengunakan GIS. Penandaan suatu daerah menggunakan GIS menjadi sangat berguna karena penandaan ini bersifat internasional. Meskipun peralatan yang digunakan berbeda-beda tetapi akan menunjukkan titk yang sama. Setelah dilakukan penandaan langkah selanjutnya adalah analisa data menggunakan piranti lunak di komputer. Titik-titik penemuan satwa liar yang kita tandai menggunakan GIS bisa kita lihat dalam bentuk peta sehingga kita bisa melihat persebaran satwa liar dengan lebih menyeluruh. Analisa GIS tidak berhenti sampai disana. Kita bisa mengabungkan data yang kita peroleh misalnya dengn ketersediaan pakan untuk satwa tersebut. Dari penggabungan peta tersebut kita dapat menarik kesimpulan apakah ada hubungan antara penyebaran satwa liar dengan ketersediaan pakan atau tidak. Ini hanyalah salah satu contoh implementasi penggunaan GIS dalam dunia satwa liar. Masih banyak lagi kegunaan lain yang bisa dilakukan GIS untuk membantu mensejahterakan satwa liar.

IMG_4642

Workshop GIS FKH Universitas Gadjah Mada 21 Desember 2013.

Taurine pada Diet Felidae


Kebutuhan protein yang tinggi pada Felidae disebabkan karena kurangnya enzim aminotransferase dan enzim siklus urea pada famili ini. Kurangnya kedua enzim tersebut memberikan efek yang besar pada sintesis zat nutrisi yang diperlukan tubuh. Famili Felidae membutuhkan banyak taurine dan arginine dalam dietnya (Knopf et al. 1978).

Umumnya mamalia dapat mensintesis taurine dalam tubuh. Taurine diketahui bukan merupakan zat esensial kecuali pada hewan muda. Akan tetapi taurine merupakan zat esensial pada famili kucing-kucingan. Taurine merupakan asam amino. Taurine tidak termasuk pembentuk polipeptida tetapi berada di dalam jaringan tubuh hewan sebagai asam amino bebas. Pada mamalia taurine tidak dioksidasi, melainkan digunakan sebagai konjugat pada asam empedu. Anjing dan kucing menggunakan taurine sebagai konjugat asam empedu, sedangkan spesies lainnya termasuk manusia bisa menggunakan taurine atau glysin untuk mengkonjugasi asam empedu. Anjing menggunakan taurine untuk mengkonjugasi asam empedu akan tetapi hewan seperti anjing dan pengerat mempunyai kemampuan sintesis yang luar biasa sehingga bisa mencukupi kebutuhan taurin dalam tubuh. Spesies yang mempunyai kemampuan sintesis taurin lebih rendah seperti kelinci mengganti taurine dengan glycine sebagai konjugat asam empedunya. Spesies seperti manusia dan monyet dunia lama menggunakan taurine sebagai konjugat asam empedunya tetapi menggantinya dengan glycine ketika kadar taurine dalam plasma rendah. Inilah yang membuat kucing sangat sensisitif terhadap defisiensi taurine dibandingkan spesies lain. Keadaan ini diperburuk dengan kebutuhan pertumbuhan masaa otot yang besar pada famili Feidae (Hayes 1981).

Mamalia mensintesis taurine dengan cara mengoksidasi sulfur asam amino cystein. Felidae memiliki semua enzim yang dibutuhkan untuk mensintesis taurin, akan tetapi aktivitas enzim untuk sisntesa taurine lebih rendah dibandingkan spesies mamalia lainnya. Enzim terebut adalah cystein dioksigenase (CD) yang mengkatalisasi oksidasi cystein menjadi asam cysteinesulphid (CSA) dan asam cysteinesulphic dekarboksilase yang mengakatalisasi konversi CSA menjadi hypotaurine. Kurangnya aktivitas kedua enzime tersebut menimbulkan efek yang berlipat. Rendahnya aktivitas enzim akan memperlambat perjalanan sintesis taurine (Morris 2001).

Hayes et al. (1975) melaporkan bahwa defisiensi taurine pada Felidae dapat menyebabkan degenerasi retina. Selain itu Stuman et al. (1987) menunjukkan bahwa defisiensi taurine pada induk kucing bisa menyebabkan gangguan reproduksi dan kelainan pertumbuhan pada anak yang dikandungnya. Dalam penelitian yang lain disebutkan bahwa defisiensi taurine dihubung-hubungkan dengan kejadian dilatasi kardiomiopati, keadaan ini bisa diperbaiki dengan penambahan supplemen taurin pada pakan.

Taurine banyak terdapat pada pakan yang berasal dari hewan dan juga ikan. Taurine banyak terdapat pada jaringan hewan. Satwa anggota famili Felidae yang diberi pakan menggunakan daging. Permasalahan timbul ketika satwa diberikan pakan kombinasi antara daging dan bahan-bahan sayuran. Hal ini sering terjadi pada kucing domestik. Keuntungan lain memberikan daging hewan sebagai pakan selain mencukupi kebutuhan taurin dalam tubuh satwa adalah metabolisme protein-protein dalam daging akan menghasilkan pyruvat yang akan dikonversikan menjadi energi (Morris 2001).

Daftar Pustaka

Hayes, K.C., Carey, R.E. and Schmidt, S.J. 1975. Retinal degeneration associated with taurine deficiency in the cat. Science 188, 949–951.

Hayes, K.C. 1981. Nutritional Problems in Cats: Taurine Deficiency and Vitamin A Excess. Can. vet. J. 23: 2-5

Knopf K, Sturman JA, Amstrong M, Hayes C. 1978. Taurine: An Essential Nutrient for the Cat. J. Nutr. 108: 773-778,

Morris JG. 2001. Unique nutrient requirements of cats appear to be diet–induced evolutionary adaptations. Recent Advances in Animal Nutrition in Australia, Volume 13

Sturman, J.A., Gargano, A.D., Messing J.M. and Imake, H. 1987. Nutritional taurine deficiency and feline pregnancy and outcome. In: The Biology of Taurine. Methods and Mechanisms, pp. 113–124 (eds. R.J. Huxtable, F. Franconi and A. Giotti), Advances in Experimental Medicine, 217.

Jangan Pelihara Satwa Liar!


Isu pelestarian satwa bukanlah isu yang baru. Isu ini sudah muncul cukup lama begitu juga di Indonesia. Banyak LSM dan para aktivis yang tak pernah lelah untuk melestarikan satwa liar, akan tetapi kehidupan satwa liar di Indonesia masih banyak yang memprihatinkan. Kalau kita lihat di pasar-pasar kita akan dengan mudahnya menemukan satwa liar yang dijual dengan bebas. Sungguh sangat memprihatinkan.

Pelestarian satwa liar memang bukan perkara mudah. Dana yang dibutuhkan untuk melestarikan satwa liar juga tidak sedikit. Sampai muncul suatu pameo dalam masyarakat “jangan berbicara tentang konservasi satwa liar jika masyarakat masih memikirkan besok mau makan apa”. Memang usaha pelestarian satwa liar kerap kali berbenturan dengan masalah “perut” atau masalah mata pencaharian seseorang atau kelompok tertentu. Bisnis perdagangan satwa liar cukup menggiurkan, tak jarang para penjual dan pembeli bertransaksi melalui media internet seperti social media. Modusnya bermacam-macam, ada yang menyamarkan nama satwa yang akan dijual. Mengecat rambut satwa sehingga satwa tersebut tidak terlihat seperti satwa liar yang dilindungi.

Continue reading

First Edition Satwaliar e-Magazine


Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmatNya sehingga e-Magazine Satwaliar edisi pertama berhasil terbit. Majalah elektronik ini merupakan media mandiri dan independent yang membahas permasalahan di sekitar satwa liar. Permasalahan yang dibahas lebih dititik beratkan pada masalah-masalah medis pada satwa liar. Akan tetapi isu-isu terkini tentang satwa liar juga akan dibahas pada majalah ini.

Dasar pemikiran dari terbitnya majalah satwaliar ini adalah untuk membuat masyarakat semakin sadar akan pentingnya peranan satwa liar dan kesehatan lingkungan dalam kesehatan seutuhnya. Kesehatan merupakan masalah yang kompleks. Kesehatan bukan hanya tanggung jawab para dokter dan praktisi kesehatan lainya, tetapi merupakan tanggun jawab semua pihak. Kolaborasi dari bebagai displin ilmu adalah hal mutlak yang diperlukan untuk menghadapi masalah kesehatan secara holistik.

Majalah digital satwaliar ini merupakan salah satu langkah yang kecil yang diharapkan dapat memberikan kontribusi kepada permasalahan yang saya paparkan di atas. Selain itu tentu saja untuk lebih memperkaya konten lokal. Majalah ini masih jauh dari kata sempurna. Ibarat pepatah umur belum setahun jagung, darah belum setampuk pinang, majalah ini masih sangat muda. Kritik, saran, dan masukan sangat diharapkan demi kebaikan majalah ini di masa mendatang.

Untuk dapat mengunduh majalah elektronik ini dapat langsung dari website satwaliar.org.

Precocial dan Altricial pada Burung


altricial bird

Pernahkah anda melihat anak burung gereja yang baru menetas?. Anak burung gereja yang baru menetas sangat lemah, mereka belum bisa mencari makan sendiri, bahkan mereka belum bisa mematuk makanannya sendiri. Coba bandingkan dengan anak ayam yang baru menetas. Tidak lama setelah mereka menetas mereka sudah bisa berjalan dan bisa mematuk makanannya sendiri. Anak burung maleo yang baru menetas malah lebih hebat lagi, mereka dapat dapat bertahan hidup tanpa induknya. Jika kita lihat dari sisi taksonominya, ketiga spesies ini dikelompokkan dalam kelas yang sama yaitu kelas aves.

Perbedaan ini merupakan strategi dari masin-masing spesies untuk mempertahankan jenisnya. Secara umum strategi pasca menetas ini dibagi menjadi precocial, semiprecocial, semiatricial dan altricial. Mari kta bahas satu persatu:

Continue reading