Penggunaan GIS dalam dunia Satwa Liar


IMG_4629

Definisi Geographical Information System (GIS) menurut laman (www.esri.com) adalah sistem yang memungkinkan kita untuk memvisualisasikan, menganalisa, mengintepretasikan data, dan memahami data untuk mengetahui hubungan, pola, dan tren dari informasi yang kita dapatkan. GIS adalah sistem yang majemuk. Penggunaan GIS awalnya hanya terbatas pada militer saja, tetapi seiring dengan kemajuan zaman GIS sudah diaplikasikan ke banyak bidang. Di dunia satwa liar GIS sangat berguna untuk melakukan survey. Dengan GIS kita bisa melacak kembali keberadaan satwa liar untuk kemudian dianalisa. Misalnya kita ingin mengetahui penyebaran suatu spesies satwa liar tertentu di suatu daerah. Yang akan kita lakukan adalah turun ke lapangan untuk mendeteksi keberadaan satwa tersebut. Apabila kita bertemu dengan satwa yang kita maksud atau menemukan keberadaan satwa liar tersebut maka kita bisa menandai daerah tersebut mengunakan GIS. Penandaan suatu daerah menggunakan GIS menjadi sangat berguna karena penandaan ini bersifat internasional. Meskipun peralatan yang digunakan berbeda-beda tetapi akan menunjukkan titk yang sama. Setelah dilakukan penandaan langkah selanjutnya adalah analisa data menggunakan piranti lunak di komputer. Titik-titik penemuan satwa liar yang kita tandai menggunakan GIS bisa kita lihat dalam bentuk peta sehingga kita bisa melihat persebaran satwa liar dengan lebih menyeluruh. Analisa GIS tidak berhenti sampai disana. Kita bisa mengabungkan data yang kita peroleh misalnya dengn ketersediaan pakan untuk satwa tersebut. Dari penggabungan peta tersebut kita dapat menarik kesimpulan apakah ada hubungan antara penyebaran satwa liar dengan ketersediaan pakan atau tidak. Ini hanyalah salah satu contoh implementasi penggunaan GIS dalam dunia satwa liar. Masih banyak lagi kegunaan lain yang bisa dilakukan GIS untuk membantu mensejahterakan satwa liar.

IMG_4642

Workshop GIS FKH Universitas Gadjah Mada 21 Desember 2013.

Advertisements

Tentang 5S ini dan itu


IMG_3345

Duh, bosen deh lagi-lagi bahas yang kayak beginian. 5S senyum, salam, sapa, sopan dan santun. Norma di kampus ini emang ribet, se ribet mata kuliahnya haha. Semua warga kampus diharapkan untuk menerapkan 5S. Harapannya sih jelas, untuk menimbulkan rasa saling peduli satu sama lain, dengan begitu kampus akan lebih solid dan kompak. Tidak ada yang salah walaupun beberapa orang menganggap hal ini berlebihan. “Suka suka gue donk, gue ke kampus mau senyum, mau kagak terserah gue”. Yang jadi masalah pasti mahasiswa baru yang masih kikuk karena masuk kedalam lingkungan yang baru. Alih-alih diberikan kebebasan untuk beradapasi dengan cara masing-masing malahan diseragamkan dengan harus menerapkan 5S. Lah, sebenarnya tidak ada ukuran pasti 5S itu seperti apa. Sopan itu relatif, setiap orang punya takaran sendiri, lantas kenapa harus diseragamkan seperti ini?. Begini, saya baru pulang dari koasda (turun ke daerah untuk magang) dan begitu sampai di kampus sendiri dan merasa asing. Di kampus banyak orang baru yang tidak saya kenal. Oranag-orang minim ekspresi. Kalau saya senyum mereka buru-buru membalas senyuman dan buru-buru menhilang dari pandangan saya. Saya garuk-garuk kepala, apakah ada yang aneh dengan saya? sebegitu menyeramkan kah saya?. Pasti ini gara-gara aturan 5S.

Tidak ada yang salah dengan 5S. Seperti yang saya sebutkan diatas, hanya saja karena penerapan yang secara ekstrim yang membuat semua jadi terlihat buruk. Teringat ketika saya berada di posisi mereka, mahasiswa baru. Saya juga mengalami shock culture yang lumayan membuat saya stress. Setiap kali saya bertemu dengan orang di kampus saya harus senyum selebar lima jari dan membungkukkan badan sambil menyapa selamat pagi pak, selamat pagi buk, selamat pagi kak, selamat pagi dek. Membosankan. Sekarang saya sudah hampir lulus, menyandang predikat sebagai mahasiswa tertua yang masih berkeliaran di kampus dan saya sungguh gtidak enak hati diperlakukan demikian. lantas apa solusinya?

Yang diinginkan dari 5S kan sudah jelas, agar saling peduli. Nah, setiap orang punya caranya masing-masing untuk peduli. Oke, ga usah peduli lah, terlalul muluk, saya sederhanakan menjadi “agar tercipta komonikasi dua arah”. Jika komunikasi sudah lancar maka empati akan muncul, bener ga?. Jadi intinya ya ngobrol lah dengan sewajarnya. Saya mau berbagi pengalaman ketika saya magang selam empat bulan. setiap satu bulan sekali saya harus pindah tempat ke tempat yang baru. lingkungan baru dan orang-orang baru. Ya, adaptasi lagi dan lagi. Baru saja mau akrab saya sudah harus meninggalkan tempat tersebut. Nah saya akan ceritakan obrolan saya di tempat magang yang terakhir.

Namanya mas aryo. Kalau saya taksir umurnya diatas 26 tahun. Belum berkeluarga, dan sudah sejak 2008 bekerja di sebuah peternakan ayam. Hari itu saya ditugaskan untuk membantu mas aryo. Sebelumnya saya belum pernah ditugaskan di kandang yang menjadi tanggung jawab mas aryo. Awalnya kenalan, basai basi dan langsunglanjut kerja. Ternyata oh ternyata, bukan itu yang diharapkan.

“udah ga usah dibersihin, ntar saya aja yang bersihin” kata mas aryo yang bingung meihat saya dan teman saya asik membersihkan temapt minum ayam

“Ga apa2 mas, seloooooow” sahut kami

Mas aryo medekat, mulaiah dia cerita ini dan itu. Cerita tentang teman kami yang sudah lebih dulu magang di peternakan ayam ini dan lain-lain. Satu pelajaran yang penting yang saya ambil adalah bahwa mereka pengen diajak ngobrol, That’s it. Ingin berbgai pengalaman, bertukar pikiran, saling mengisi. Saya datang ke peternaka tersebut sebagai seorang calon dokter hewan. Seseorang dengan pendidikan tinggi. Sedangkan mas aryo adalah seorang buruh kandang yang tidak mengenyam pendidikan seperti saya. Jadi wajar mereka begitu antusias. Ingin menggali ilmu sebanyak banyaknya, dan memang itu yang diharapkan oleh kampus ketika mengirimkan saya ke peternakan-peternakan dan klinik hewan di seantero jabodetabek- jabar. “kadang saya bingung sama anak magang, klo lewat senyum-senyum, emangnya kita apaan disenyumin mulu, klo mau ngobrol ya ngobrol aja ga usah senyam-senyum ga jelas” *jleb. Saya tertohok mendengar perkataannya , iya memang benar, memangnya mereka apaan saya senyumin terus. Apalagi senyum yang saya lempar adalah senyum setengah terpaksa dan setengah ikhlas. Bukan senyum yang seratus persen tulus. Saya yakin jika hal ini diketahui oleh orang-orang di kampus saya mereka akan memahami bagaimana sehausnya berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya. Sekarang saya mengibaratkan mahasiswa baru adalah saya, dan civiitas kampus yang sudah lebih dulu dalah mas aryo.

“kan saya males kenalan dengan orang  baru” terserah, itu pilihan. Mau kenal atau tidak kenal tidak ada yang melarang. Tetapi pendidikan dokter hewan akan memakan waktu yang sangat panjang. Akan sangat membosankan jika kita itidak banyak berinteraksi dengan lingkungan sekitar kita. Banyak sekali hal yang merpeotkan di kampus ungu ini yang memang tidak bisa diselesaikan sendiri. di saat itulah ada orang-orang yang membantu. suapa lagi kalau bukan orang di sekitar kita.Saya sangat berharap masalah 5S ini fokus kepada masalah komunikasi yang akhirnya akan melairkan empati. Bukan menjadi takaran bagi sebuah angkatan. Angkatan tahun ini ga ada 5S nya, ga sopan sama kakak kelas. Dosen mengeluh. Yang disapa hanya dosen dan mahasiswa, staf kampus tidak disapa. Hal-hal sperti itu menurut saya bukan menambah baik, hanya akan menimbulkan dendam terhadap adik kelas selanjutnya. Yang terjadi hanyalah lingkaran setan. Sebaik apapun gagasan belum temtu diterima oleh semua orang, begitu juga dengan gagasan 5S ini. Kita tidak bisa memaksa semua orang setuju dengan pendapat kita tetapi sekali lagi saya sampaikan jika tujuan kahir dari 5S ini dapat dipahami bersama kana menjadikan kampus ungu lebih baik. Viva Veteriner, Jayalah IPB Kita!

Sharing tentang Zoonosis bareng Mbak Lina


Izinkan saya mengawali postingan kali ini dengan ucapan rasa syukur karena bisa berada di sekitar orang-orang yang se-ide dengan saya.

Senin kemarin (12 Maret 2012) seorang rekan blogger Mbak Lina mention saya di twiiter. Inti pesannya dia ingin bertemu dengan saya untuk sharing tentang zoonosis. Awalnya saya berfikiran ini ada kaitannya tentang kelestarian hutan. FYI mbak lina adalah mahasiswi Fakultas Kehutanan. Saya mengiyakan bisa bertemu dia selasa malam di kampus. Sampai saat itusaya masih tenang-tenang saja. Hingga akhirnya saya mendapat sms reminder dari mbak lina, dan di sms itu tertulis “Guest Star: Mas Agung FKH 44”. Mulai dari saat itu saya menjadi tidak bisa bersantai. Akhirnya saya memutuskan untuk membuat essay tentang zoonosis dan kaitannya dengan kelestarian alam. Satu jam akhirnya essay tersebut selesai dengan apa adanya. Tanpa literatur yang cukup dan semua hanya berasal dari apa yang saya ingat dikepala. Isinya hanya opini saya tentang zoonosis.

Akhirnya sampailah saya di waktu yang dijanjikan. FYI ini sekaligus kopdar pertama saya dengan Mbak Lina. Walaupun sudah sering adu argumen di komen dan twitter tapi kami belum pernah kontak visual sekalipun :). Ternyata dugaan saya 100% meleset. Ternyata mbak lina membuat PKM (Program Kreativitas Mahasiswa) tentang zoonosis danbutuh masukan dari saya (mahasiswa kedokteran tingkat akhir). Dan yang lebih memperparah keadaan adalah saya lupa menyerahkan essay saya.

Terakhir saya ingin mengucapkan Ganbatte kudasai kepada tim zoonoranger. Semoga bisa lolos sampe pimnas dan juara yaa!

Kerusakan Alam dan Ancaman Zoonosis

Diagnosa Kebuntingan pada Ruminansia Besar


Diagnosa kebuntingan pada ruminansia besar memiliki nilai ekonomi yang cukup besar. Sangat penting bagi peternak untuk mengetahui apakah ternaknya buntung atau tidak. Keterlambatan kebuntingan akan menyebabkan keurgian pada peternak, kerugian berupa kerugian biaya pakan yang harus dikeluarkan dan kerugian waktu.

Diagnosa kebuntingan dapat dilakukan dengan beberapa cara:

  1. Betina menolak untuk dikawini. Cara ini merupakan cara tradisional untuk mendiagnosa kebuntingan, caranya dengan mengamati 21  hari setelah indukan sapi dikawinkan atau diinseminasi, jika indukan menolak untuk dikawinkan maka indukan tersebut diduga bunting. Cara ini biasanya dilakukan untuk mencegah inseminasi pada indukan bunting yang akan menyebabkab aborsi.
  2. Pengukuran kadar progesteron juga dapat digunakan sebagai diagnosa kebuntingan pada sapi. Peeriksaan dengan cara ini meminimalkan pengaruh yang dapat timbul akibat pemeriksaan dengan cara palpasi rektal.
  3. Pemeriksaan protein spesisfik pada kebuntingan (pregnancy-spesific protein). Untuk memeriksa keberadaan portein ini dilakukan pemeriksaan secara imunologis pada serum hewan yang diduga bunting.
  4. Pemeriksaan dengan menggunakan USG. Pemeriksaan menggunakan USG dapat dilakukan setelah hari kke-17.
  5. Palpasi fetus. Cara ini merupakan cara yang langsung memeriksa adanya fetus dalam uterus. Cara ini aman dilakukan namun dapat dilakukan setelah fetus berumur 40 hari.

Bahan Bacaan

Ball, PJH & AR Peters. Reproduction in Cattle 3rd Edition. UK: Blackwell Publishing

http://www.articlesbase.com

Biosecurity dan Biosafety


Biosafety dan biosecurity merupakan dua hal yang saling berkaitan. Keduanya mempunyai tujuan untuk menjamin keamanan dari bahaya biologis. Tetapi meski tujuannya sama biosecurity dan biosafety merupakan dua hal yang berbeda. Biosecurity adalah usaha untuk menjaga suatu daerah dari masuknya agen penyakit, menjaga tersebarnya agen penyakit dari daerah tertentu, dan menjaga agar suatu penyakit tidak menyebar di dalam daerah tersebut. Sedangkan biosafety adalah usaha yang dilakukan agar orang yang bekerja dengan bahan biologi berbahaya terlindungi dari bahan bahaya bahan biologi yang ditanganinya.

Upik K. Hadi menyebutkan secara sederhana biosecurity adalah usaha untuk melindungi kehidupan. Biosecurity mempunyai peranan penting dalam pencegahan penyebaran penyakit. Dalam suatu usaha peternakan biosecurity merupakan sesuatu sistem yang dapat melokalisasi agen penyakit sehingga tidak menyebar ke tempat lain atau di dalam peternakan itu snediri.

Berbeda dengan biosecurity, biosafety adalah suatu konsep yang mengamankan orang yang bekerja dengan suatu bahan biologis. Misalnya orang yang bekerja dengan suatu virus yang dapat menimubulkan penyakit berbahaya maka orang tersebut harus mengunakan sarung tangan. Jadi biosecurity adalah suatu konsep yang mengatur orang yang bekerja atau bersnetuhan dengan objek bilogis berbahaya agar terhindar dari bahaya objek biologis tersebut.

Biosafety dan biosecurity biasanya dijalankan secara bersamaan. Karena pada intinya biosceurity juga mendukung terlaksananya biosafety, begitu juga sebaliknya. (Agung Sudomo).