Challenge Accepted


Akhirnya ya kaaaan. Bisa juga nulis pake judul ini haha. Apa pasal? kalau mau tau cerita lengkapnya baca dulu postingan saya yang Undangan Yang Bikin Galau sama Relationship Goal Bareng kamu. Alhmdulillah yah, walaupun sepertinya saya tidak memenangi lomba itu, tapi saya sudah menang, menang melawan rasa malas *azeeeek. Dulu waktu awal-awal ngeblog saya hampir tidak percaya jika writer block itu ada. Karena faktanya memang ide untuk menulis mengalir terus seakan tak ada habisnya. Saya sampai scheduled post. Pokoknya berasa blogger ternama haha. Melihat apapun bisa jadi bahan tulisan di blog. Tulisan dari yang penting sampai yang tidak penting. Dari yang sulit dipahami bahkan oleh saya sendiri sampai postingan dengan bahasa yang runut. Pokoknya semuanya ada haha.

Entahlah, saya merasa jika jumlah tulisan blog saya ini bisa dianalogikan dengan lingkaran tahun pada batang kayu

Continue reading

Filosofi Lilin


Lilin mampu menerangi sekitarnya namun lama kelamaan dirinya akan habis

Begitulah filosofi lilin. Jangan sekali-kali menjadi seperti lilin. Jadilah lampu yang hemat energi, begitulah seharusnya. Salah satu yang saya takutkan dalam hidup saya adalah menjadi seperti lilin. Walaupun suka tidak suka jika saya tidak segera berbenah maka saya benar-benar akan menjadi seperti lilin.

Alkisah 27 Oktober 2011 (bertepatan dengan Hari Blogger Nasional) lalu saya menulis tentang motivasi saya menulis blog. Tentang mimpi-mimpi saya bersama blog. Saat itu saya adalah blogger yang maaaasih sangat muda dalam dunia blog. Umur belum setahun jagung, darah belum setangkup pinang. Status saya masih sebagai mahasiswa tingkat akhir yang jomblo  yang masih berjuang mengerjakan skripsi membuat saya memiliki waktu yang lebih dari cukup untuk menjadi seorang full time blogger. saat itu saya juga punya segunung kegalauan yang tidak akan habis jika saya tuliskan dalam blog saya. Idealisme saya sebagai agent of change juga masih sangat tebal. Keadaannya memang seperti semesta mendukung. Hingga tulisan yang terlahir saat itu ternyata berkesan bagi beberapa rekan dekat saya. Saya sangat bersyukur beberapa teman saya lantas terpacu untuk menulis dan bahkan sudah menerbitkan tulisannya dalam bentuk novel.

Kemudian saya berkaca pada diri saya sendiri. Saya bertanya kepada lubuk hati saya yag paling dalam. Apakah yang sudah saya tulis? Kita kesampingkan terlebih dahulu masalah kualitas, dari segi kuantitas tulisa saja saya sudah jauh merosot. Saya menjadi seperti lilin?.Memang saat ini semuanya sudah berbeda. Saya bukan lagi mahasiswa tingkat akhir yang punya banyak waktu untuk mengurai dan menuangkan pikiran kedalam sebuah bentuk tulisan. Saat ini saya sudah menjadi seorang profesional yang punya tanggung jawab yang lebih besar dibanding dulu. Sebenarnya cukup banyak alasan yang membuat saya tidak bisa menulis secara rutin seperti dulu tapi inilah pil pahit yang harus saya rasakan. Empat tahun yang lalu saya menyatakan bahwa tidak ada sedikitpun dari kegiatan ngeblog itu yang tidak menyenangkan kecuali menyadari bahwasannya untuk menulis blog secara rutin itu sangat sulit. Namun tidak ada gunanya bersedih hati dan menyesali apa yang sudah terjadi, yang penting saya harus segera berubah dan kembali melanjutkan mimpi saya bersama blog.

Tentang 5S ini dan itu


IMG_3345

Duh, bosen deh lagi-lagi bahas yang kayak beginian. 5S senyum, salam, sapa, sopan dan santun. Norma di kampus ini emang ribet, se ribet mata kuliahnya haha. Semua warga kampus diharapkan untuk menerapkan 5S. Harapannya sih jelas, untuk menimbulkan rasa saling peduli satu sama lain, dengan begitu kampus akan lebih solid dan kompak. Tidak ada yang salah walaupun beberapa orang menganggap hal ini berlebihan. “Suka suka gue donk, gue ke kampus mau senyum, mau kagak terserah gue”. Yang jadi masalah pasti mahasiswa baru yang masih kikuk karena masuk kedalam lingkungan yang baru. Alih-alih diberikan kebebasan untuk beradapasi dengan cara masing-masing malahan diseragamkan dengan harus menerapkan 5S. Lah, sebenarnya tidak ada ukuran pasti 5S itu seperti apa. Sopan itu relatif, setiap orang punya takaran sendiri, lantas kenapa harus diseragamkan seperti ini?. Begini, saya baru pulang dari koasda (turun ke daerah untuk magang) dan begitu sampai di kampus sendiri dan merasa asing. Di kampus banyak orang baru yang tidak saya kenal. Oranag-orang minim ekspresi. Kalau saya senyum mereka buru-buru membalas senyuman dan buru-buru menhilang dari pandangan saya. Saya garuk-garuk kepala, apakah ada yang aneh dengan saya? sebegitu menyeramkan kah saya?. Pasti ini gara-gara aturan 5S.

Tidak ada yang salah dengan 5S. Seperti yang saya sebutkan diatas, hanya saja karena penerapan yang secara ekstrim yang membuat semua jadi terlihat buruk. Teringat ketika saya berada di posisi mereka, mahasiswa baru. Saya juga mengalami shock culture yang lumayan membuat saya stress. Setiap kali saya bertemu dengan orang di kampus saya harus senyum selebar lima jari dan membungkukkan badan sambil menyapa selamat pagi pak, selamat pagi buk, selamat pagi kak, selamat pagi dek. Membosankan. Sekarang saya sudah hampir lulus, menyandang predikat sebagai mahasiswa tertua yang masih berkeliaran di kampus dan saya sungguh gtidak enak hati diperlakukan demikian. lantas apa solusinya?

Yang diinginkan dari 5S kan sudah jelas, agar saling peduli. Nah, setiap orang punya caranya masing-masing untuk peduli. Oke, ga usah peduli lah, terlalul muluk, saya sederhanakan menjadi “agar tercipta komonikasi dua arah”. Jika komunikasi sudah lancar maka empati akan muncul, bener ga?. Jadi intinya ya ngobrol lah dengan sewajarnya. Saya mau berbagi pengalaman ketika saya magang selam empat bulan. setiap satu bulan sekali saya harus pindah tempat ke tempat yang baru. lingkungan baru dan orang-orang baru. Ya, adaptasi lagi dan lagi. Baru saja mau akrab saya sudah harus meninggalkan tempat tersebut. Nah saya akan ceritakan obrolan saya di tempat magang yang terakhir.

Namanya mas aryo. Kalau saya taksir umurnya diatas 26 tahun. Belum berkeluarga, dan sudah sejak 2008 bekerja di sebuah peternakan ayam. Hari itu saya ditugaskan untuk membantu mas aryo. Sebelumnya saya belum pernah ditugaskan di kandang yang menjadi tanggung jawab mas aryo. Awalnya kenalan, basai basi dan langsunglanjut kerja. Ternyata oh ternyata, bukan itu yang diharapkan.

“udah ga usah dibersihin, ntar saya aja yang bersihin” kata mas aryo yang bingung meihat saya dan teman saya asik membersihkan temapt minum ayam

“Ga apa2 mas, seloooooow” sahut kami

Mas aryo medekat, mulaiah dia cerita ini dan itu. Cerita tentang teman kami yang sudah lebih dulu magang di peternakan ayam ini dan lain-lain. Satu pelajaran yang penting yang saya ambil adalah bahwa mereka pengen diajak ngobrol, That’s it. Ingin berbgai pengalaman, bertukar pikiran, saling mengisi. Saya datang ke peternaka tersebut sebagai seorang calon dokter hewan. Seseorang dengan pendidikan tinggi. Sedangkan mas aryo adalah seorang buruh kandang yang tidak mengenyam pendidikan seperti saya. Jadi wajar mereka begitu antusias. Ingin menggali ilmu sebanyak banyaknya, dan memang itu yang diharapkan oleh kampus ketika mengirimkan saya ke peternakan-peternakan dan klinik hewan di seantero jabodetabek- jabar. “kadang saya bingung sama anak magang, klo lewat senyum-senyum, emangnya kita apaan disenyumin mulu, klo mau ngobrol ya ngobrol aja ga usah senyam-senyum ga jelas” *jleb. Saya tertohok mendengar perkataannya , iya memang benar, memangnya mereka apaan saya senyumin terus. Apalagi senyum yang saya lempar adalah senyum setengah terpaksa dan setengah ikhlas. Bukan senyum yang seratus persen tulus. Saya yakin jika hal ini diketahui oleh orang-orang di kampus saya mereka akan memahami bagaimana sehausnya berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya. Sekarang saya mengibaratkan mahasiswa baru adalah saya, dan civiitas kampus yang sudah lebih dulu dalah mas aryo.

“kan saya males kenalan dengan orang  baru” terserah, itu pilihan. Mau kenal atau tidak kenal tidak ada yang melarang. Tetapi pendidikan dokter hewan akan memakan waktu yang sangat panjang. Akan sangat membosankan jika kita itidak banyak berinteraksi dengan lingkungan sekitar kita. Banyak sekali hal yang merpeotkan di kampus ungu ini yang memang tidak bisa diselesaikan sendiri. di saat itulah ada orang-orang yang membantu. suapa lagi kalau bukan orang di sekitar kita.Saya sangat berharap masalah 5S ini fokus kepada masalah komunikasi yang akhirnya akan melairkan empati. Bukan menjadi takaran bagi sebuah angkatan. Angkatan tahun ini ga ada 5S nya, ga sopan sama kakak kelas. Dosen mengeluh. Yang disapa hanya dosen dan mahasiswa, staf kampus tidak disapa. Hal-hal sperti itu menurut saya bukan menambah baik, hanya akan menimbulkan dendam terhadap adik kelas selanjutnya. Yang terjadi hanyalah lingkaran setan. Sebaik apapun gagasan belum temtu diterima oleh semua orang, begitu juga dengan gagasan 5S ini. Kita tidak bisa memaksa semua orang setuju dengan pendapat kita tetapi sekali lagi saya sampaikan jika tujuan kahir dari 5S ini dapat dipahami bersama kana menjadikan kampus ungu lebih baik. Viva Veteriner, Jayalah IPB Kita!

Model with Canon EF 50 mm f 1.8 II


Meski bukan pertama kalinya saya bereksperimen memotret model, tetapi pemotretan ini jadi pemotretan yang sedikit kontoversial. Kontroversialnya pemotretan ini tak lepas dari model yang saya potret. Dia adalah junior saya di kampus. Nah, seperti biasanya, tradisi di kampus saya setiap kali ada senior dekat dengan juniornya maka akan langsung digosipin. Gosip mengenai hal yang dianggap tabu menjadi layak dibicarakan, ups.

Kembali ke masalah pemotretan. Kali ini saya mendapat pinjaman lensa fix 50 mm dari teman saya. Lensa termurah dari jajaran lensa canon ini memang cukup powerfull. Dengan diafragma hingga 1.8 ini memang bisa menghasilkan bokeh yang bagus. Setidaknya dibandingkan dengan harganya yang hanya sekitar 900 ribuan, lensa ini sudah sangat bagus untuk memotret model. Apalagi saat saya melakukan pemotretan cuaca cukup cerah sehingga tidak ada masalah dengan kekurangan cahaya. Kamera saya atur ke mode AV dan diafragma saya atur ke f5. Saya cukup puas dengan hasil yang saya dapat. Ketika saya diskusikan dengan nindi (junior yang jadi model saya) dia juga mengaku puas.

Hasil foto yang saya dapat kemudian saya edit menggunakan Lightroom dan photoshop. Dan, taraaaaa….  saran dan kritik untuk pemotretan ini saya tunggu.

Continue reading