Soft skill?


Pertama kali saya mendengar kata soft skill adalah ketika saya duduk di bangku kuliah. Saat itu sedang hangat-hangatnya alumni kampus saya dianggap memiliki soft skill yang kurang baik. Celakanya soft skill diklaim sebagai faktor penentu kesuksesan sebayak 80%. Soft skill sendiri tidak bisa diajarkan seperti layaknya ilmu-ilmu eksak. Jujur saat itu saya juga bingung dengan konsep soft skill ini. Walaupun hampir setiap hari banyak kuliah umum, seminar, ataupun kajian-kajian tentang soft skill tetap saja saya belum mengerti. Lalu sebenarnya apa sih soft skill itu? Mengapa menjadi begitu pending?. Banyak teori tentang soft skill yang bisa anda temukan di internet jadi di sini saya hanya akan menceritakan pemahaman saya tentang soft skill. Analoginya begini, saya adalah seorang dokter hewan, secara umum tugas saya adalah mengobati hewan. Berarti yang saya perlukan adalah kemampuan mengobati hewan. Tepat sekali, saya tidak akan memiliki karier yang bagus sebagai dokter hewan jika saya tidak bisa mengobati hewan dengan baik. Yang menarik adalah rumus diatas tidak berlaku di lapangan. Terlalu banyak faktor non teknis yang bisa menghambat karier kita. Disinilah soft skill berperan, bagaimana kita menghadapi masalah-masalah non teknis afar tidak menghambat karier kita. Ada banyak cara mempelajarinya, langkah awalnya adalah dengan menyadari pentingnya soft skill itu sendiri. Selalu berpikiran positif dan terbuka juga penting untuk mendapatkan soft skill yg baik.