Bahagia bisa saling menjadi saksi sejarah, menyaksikan jatuh dan bangun, menemani suka dan duka hingga masing2 dari kita mencapai titik ini. Semoga kita selalu diberi kekuatan untuk mengemban amanah yang mulia ini, semoga kita tetap bisa saling mengisi satu sama lain untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Selamat drh Talitha Khairunisa.

With Love
drh Agung Sudomo

*searah jarum jam:
27/01/2013 wisuda Agung Sudomo, SKH

22/01/2014 wisuda Talitha Khairunisa, SKH

30/04/2014 Pengambilan Sumpah drh Agung Sudomo

20/01/2016 Pengambilan Sumpah drh Talitha Khairunisa – with Talitha

View on Path

Advertisements

Main Air dan makan Buah Tampoi di Air Terjun Guruh Gemurai


Air Terjun Guruh Gemurai

Kali ini saya bersama keluarga berkesempatan untuk wisata ke Air terjun Guruh Gemurai di Desa Kasang, Kecamatan Kuantan Mudik, Kabupaten Kuantan Singingi sekitar 59 km dari Kota Taluk Kuantan. Sebelumnya kami berencana untuk mengisi long weekend libur natal ke Danau singkarak yang terletak di Provinsi Sumbar, akan tetapi kami mengurngkan niat karena jarak yang lumayan jauh. Akhirnya kami memutuskan untuk mengunjungi Air Terjun Guruh Gemurai, itung-itung memajukan potensi wisata lokal *tsaaah. Dan ternyata wisata lokal juga tidak kalah lho dibandingkan dengan wisata yang ada di daerah lain. Air Terjun Guruh Gemurai sendiri adalah sebuah air terjun alami yang terletak di tengah hutan. Suasananya masih sangat asri. Airnya jernih dan dingin, kebtulan bulan desember curah hujan sangat tinggi. Wisata ke Air Terjun Guruh Gemurai memiliki keasyikan tersendirI karena untuk mencapai air terjun kita harus mnuruni tangga yang lumayan panjang dan terjal. Tapi tenang saja, pihak pengelola sudah membuat tangga permanen yang saya rasa cukup aman untuk dilewati.

P_20151227_135953

Daaan menurut saya menuruni tangga menuju ke air terjun lebih menantang dibanding perjalanan pulang hehe. Bahkan ada tangga yang kemiringannya hampir 90 derajat. tapi itu semua akan terbayar dengan keindahan air terjun dan kesegaran airnya. Saya tidak tahan untuk mencoba mandi di air terjun hehe

P_20151227_140458

P_20151227_142157

  Disekitar lokasi wisata juga banyak masyarakat yang berjualan, dan mereka banyak menjula buah Tampoi, saya sendiri kurang tau apa itu buah tampoi, kalau menurut saya rasa dan bentuknya seperti manggis hehe.

Buah TampoiPotensi wisata lokal seperti Air Terjun Guruh Gemurai ini harus kita dukung dan lestarikan karena sektor pariwisata adalah sektor yang paling murah untuk meningkatkan ekonomi masyarakat. Secara umum pengelola air terjun sudah berusaha untuk memberikan pelayanan yang baik untuk para pengunjung. Hanya saja diperlukan eberapa perbaikan di beberapa sektor. Yang paling mencolok menurut saya adalah masalah sampah. Masalah klise memang, tapi itulah fakta dari wajah pariwisata indonesia. Apalagi di air terjun yang memang topografinya sangat beragam sehingga susah untuk menempatkan kantung kantung sampah. Kemudain fasilitas umum seperti kamar mandi yang tidak terpelihara dengan baik. Saya sebagai pengunjung dan warga Kuantan Singingi tentunya sangat berharap bahwa wisata lokal seperti ii bisa terus diperbaiki sehingga menjadi kebanggan Masyarakat Kuantan SIngingi.

 

 

 

 

 

2015 best nine on Instagram


_4ObMSRLKm[1]

Walaupun eksistensi saya sebagai anak instagram dan anak anak fotografi patut dipertanyakan karena jarang upload foto (apalagi foto bagus) dan jarang travelling tapi saya teuteup keukeuh mengikuti trend remaja masa kini dengan mengunggah 2015 best of nine. Sebelumnya saya promo dulu deh, silahkan follow akun instragram saya yang sudah aktif sejak 2013 di @asudomo. Silahkan difollow tanpa pamrih ya, tanpa minta follback hehe. Di penghujung tahun 2015 instagram dibanjiri foto best of nine, dari para pesohor sampe yang eksistensinya dipertanyakan seperti saya membuat postingan foto best of nine. Best of nine menampilkan sembilan foto dengan like terbanyak di 2015. Saya sendiri tidak tahu pasti kapan trend best of nine dimulai. Setelah melihat beberapa teman saya membuat foto best of nine saya pun ikut-ikutan mebuatnya juga. Setelah browsing kesana kemari akhirnya saya sampai ke website 2015bestnine.com . Nah, di web ini kita tinggal memasukkan akun isntagram kita kemudian kita akan dibuatkan kolase dari sembilan foto terbaik kita di 2015. Tidak ada authorization sama sekali. Saya tidak tahu pasti, mungkin karena instagram saya adalah public artinya tidak saya gembok jadi semua orang berhak melihat foto saya termasuk si website ini hehe.

Tahun 2014 sebenernya juga ada trend semacam ini. Hanya saja tahun lalu pengguna instgram belum se massive seperti saat ini. Pada ahun 2014 lalu ada “My 2014 on instagram” yang dibuat oleh iconsquare.com . Iconsquare.com mempunyai konsep yang berbeda dibanding 2015bestnine.com dimana iconsquare benar-benar mmbuat resume dari semua kegiatan kita di Instgaram termasuk menampilkan jumlah foto yang di upload, kemudian persentase foto yang menggunakan filter serta jumlah follower. Iconsquare juga menyediakan video yang menampilkan best of five photo kita di instagram. Jika dilihat berdasarkan kemunculannya di timeline instgram saya jelas bestofnine unggul atas iconsquare, bahkan unggul sangat jauh haha. Menurut saya ada beberapa alasan mengapa iconsquare kalah populer antara lain adalah iconsquare terlalu kaku. iconsquare membuat resume yang sangat detil, bagi saya yang suka blogging dan suka fotografi memang lebih menarik karena menghadirkan data yang komperehensif. Tapi jangan lupa bahwa isntagram adalah social media, terkadang statistik menjadi tidak penting, inilah yang dimanfaatkan betul oleh bestofnine dengan membuat kolase yang sangat oke menurut saya. Simple tapi bagus (mulai kehabisan kata-kata). Terakhir silahkan dibandingkan sendiri tampilan antara 2015besofnine vs my2014oninstagram.

_4ObMSRLKm[1]

xVcKSgRLKf[1]

 

 

 

 

 

 

Kangen Pepakura


IMG_20140306_145529

Pepakura, Papercaft, ada juga yang menyebutnya paper model kalau menurut saya sih itu semua sejenis hanya berbeda penyebutannya saja. Intinya adalah membuat atau meniru suatu bentuk dengan menggunakan kertas. Yang dibutuhkan adalah pola, kemudian kertas dipotong mengikuti pola tersebut kemudian dilipat mengikuti pola, kemudian direkatkan dengan lem, kemudian jadilah pepakura hehe. Secara sederhana sih prosesnya seperti itu, tapi kalau dijalanin tidak akan sesederhana prosesnya.

Saya sebenernya tidak terlalu hobi dan menseriusi pepakura. Kalau saya ingat-ingat tidak banyak pepakura  buatan saya yang terbilang sukses (menurut kriteria saya sendiri). Awal mula saya tertarik membuat pepakura adalah ketika saya tinggal di asrama TPB saat saya masih kuliah di IPB. Kala itu teman tetanggakamar saya membuat pepakura gundam. Hasilnya sangat bagus, bahkan detail gundam bisa dibuat, seperti riffle atau beam saber gundam. Awalnya saya ingin membuat pepakura gundam, tetapi setelah prosesnya berjalan ternyata sangat sulit. Pepakura gundam ketelitiannya sangat tinggi. Saya pun membuat pepakura yang lebih sederhana berupa landmark kota-kota besar di dunia serta pepakura satwa liar. Puncaknya saya membuat pepakura adalah ketika saya memiliki printer (waktu itu merk *pson). Membuat pepakura memberikan keasyikan tersendiri bagi saya. Bagaimana tidak, kertas yang awalnya berupa lembaran bisa dibuat menjadi model 3 dimensi. Terlebih ketika membuat pepakura jet tempur, kita bisa berandai-andai sedang memotong lembaran alumunium yang kemudian dibuat menjadi jet tempur sungguhan *lebay.

Salah satu pepakura yang palin berkesan yang pernah saya buat adalah pepakura helm Iron Man Mark 42. Pepakura itu sengaja saya buat untuk memberikan surprise pada acarawisuda pacar saya. Untuk membuat pepakura itu saya butuh waktu sekitar 2 minggu dan mengalami beberapa kali kegagalan. Awalnya saya membuatnya dengan menggunakan bahan kardus, tetapi karena pepeakura yang saya buat cukup besar maka kekuatan kardus tidak cukup kuat untuk mempertahankan bentuknya. Kemudian saya beralih ke cardboard (sejenis kertas yang tebal dan berlapis-lapis). Saya juga sempat menggunakan resin untuk menambah kekakuan dari pepakura yang saya buat, tetapi hasilnya gagal. Saya juga menggunakan dempul untuk membuat permukaan pepakura saya halus, hasilnya juga gagal haha. Akhirnya setelah beberapa kali gagal saya berhasil membuat pepakura yang oke (menurut pedapat saya).

IMG_20140303_094726

Setelah diberikan dempul, sebelum diwarnai

IMG_20140306_070716

Proses pengecatan

IMG_20140320_063339

Sata perform hehe Open-mouthed smile

Dalam perkembangannya banyak sekali model yang bisa dibuat dengan teknik pepakura. Ada juga software yang memungkinkan kita membuat pola pepakura dari sebuah model 3D. Sampai saat ini cita-cita saya adalah ingin membuat pepakura Armor Suit milik Alphonse Alrich di anime Full Metal Alchemist. Tetapi keinginan itu entah kapan akan terealisasi karena ternyata untuk membagi waktu antara pekerjaan dan membuat pepakura sangat sulit. Semoga dengan saya menulis ini keinginan saya segera terlaksana dan kekangenan saya terhadap pepakura bisa terobati.

Mampir ke Bukittinggi


P_20150725_164052[1]

Masih dalam rangka kondangan (yang pengen tahu perjalanan kondangan yang lain silahkan baca ) dan masih di sekitar Sumatra Barat, kali ini saya berkesempatan jalan-jalan ke Bukittinggi. Bukittinggi emang ga ada matinya. Kalau saya berani bilang kota ini adalah paket lengkap wisata. Ada wisata kuliner, wisata sejarah, wisata alam, dan wisata belanja. Walaupun saya bukan orang yang hobi banget makan tapi kali ini saya ingin menceritakan wisat kuliner di awal tulisan saya ini. Yak bener banget, Nasi Kapau Smile. Tampilannya sekilas mirip nasi Padang pada umumnya, tapi yang bikin beda adalah cara pelayanan dan tentu saja rasanya. Pelayanan atau penyajian nasi kapau lebih mirip warteg, karena semua lauk dan sayur dipajang bertingkat dan si ibu-ibu penjualnya duduk diatas, kita tinggal tunjuk ingin makan apa. Kemudian rasanya, emang sih mirip nasi padang, tapi bumbu nasi kapau lebih kerasa, gampangnya lebih nendang haha. Konon sih cuma orang-orang di daerah tertentu yang bisa memasak seenak itu.

P_20150725_161858[1]

Penampakan Nasi Kapau, jangan sampai salah minum ya, air minumnya yang di dalam gelas, bukan yang di dalam mangkuk biru haha

 

P_20150726_084546[1]

Ga afdhol rasanya kalau ke Bukittinggi tapi ga foto-foto di depan Jam Gadang. Oh iya, dulu di internet sempat heboh mengenai badut-badut yang suka memaksa pengunjung untuk berfoto bersama kemudian mematok tarif yang sangat tinggi, tetapi saat saya kesana badut-badut nakal itu sudah tidak ada, jadi saya bsia berfoto dengan tenang Smile.

P_20150726_094529[2]

Nah kalau yang ini Lobang Jepang, konon dulunya lobang ini adalah benteng pertahanan. Suasana di dalam benteng menurut saya sih agak-agak mistis gitu karena letaknya yang dibawah tanah. Akan tetapi pengunjung tak perlu khawatir karena penerangan di dalam gua sudah cukup baik dan penujuk arah serta jalur evakuasi juga terbaca dengan jelas.

P_20150726_092812_LL[1]

P_20150726_124706[1]

Nah ini yang paling bikin saya meringis, yaitu keadaan kebun binatang bukit tinggi yang tidak memperhatikan kesejahteraan hewan. Kesadaran pengunjung yang juga masih sangat rendah dengan seringkalinya melemparkan sampah sisa makanan ke dalam kandang satwa. Sepeti contohnya buaya ini yang berenang di kolam yang penuh dengan sampah

Aniway itulkah tadi plus dan minusnya berwisata di kota Bukitiggi, sampai jumpa di kondangan dan kota yang lainnya.

Filosofi Lilin


Lilin mampu menerangi sekitarnya namun lama kelamaan dirinya akan habis

Begitulah filosofi lilin. Jangan sekali-kali menjadi seperti lilin. Jadilah lampu yang hemat energi, begitulah seharusnya. Salah satu yang saya takutkan dalam hidup saya adalah menjadi seperti lilin. Walaupun suka tidak suka jika saya tidak segera berbenah maka saya benar-benar akan menjadi seperti lilin.

Alkisah 27 Oktober 2011 (bertepatan dengan Hari Blogger Nasional) lalu saya menulis tentang motivasi saya menulis blog. Tentang mimpi-mimpi saya bersama blog. Saat itu saya adalah blogger yang maaaasih sangat muda dalam dunia blog. Umur belum setahun jagung, darah belum setangkup pinang. Status saya masih sebagai mahasiswa tingkat akhir yang jomblo  yang masih berjuang mengerjakan skripsi membuat saya memiliki waktu yang lebih dari cukup untuk menjadi seorang full time blogger. saat itu saya juga punya segunung kegalauan yang tidak akan habis jika saya tuliskan dalam blog saya. Idealisme saya sebagai agent of change juga masih sangat tebal. Keadaannya memang seperti semesta mendukung. Hingga tulisan yang terlahir saat itu ternyata berkesan bagi beberapa rekan dekat saya. Saya sangat bersyukur beberapa teman saya lantas terpacu untuk menulis dan bahkan sudah menerbitkan tulisannya dalam bentuk novel.

Kemudian saya berkaca pada diri saya sendiri. Saya bertanya kepada lubuk hati saya yag paling dalam. Apakah yang sudah saya tulis? Kita kesampingkan terlebih dahulu masalah kualitas, dari segi kuantitas tulisa saja saya sudah jauh merosot. Saya menjadi seperti lilin?.Memang saat ini semuanya sudah berbeda. Saya bukan lagi mahasiswa tingkat akhir yang punya banyak waktu untuk mengurai dan menuangkan pikiran kedalam sebuah bentuk tulisan. Saat ini saya sudah menjadi seorang profesional yang punya tanggung jawab yang lebih besar dibanding dulu. Sebenarnya cukup banyak alasan yang membuat saya tidak bisa menulis secara rutin seperti dulu tapi inilah pil pahit yang harus saya rasakan. Empat tahun yang lalu saya menyatakan bahwa tidak ada sedikitpun dari kegiatan ngeblog itu yang tidak menyenangkan kecuali menyadari bahwasannya untuk menulis blog secara rutin itu sangat sulit. Namun tidak ada gunanya bersedih hati dan menyesali apa yang sudah terjadi, yang penting saya harus segera berubah dan kembali melanjutkan mimpi saya bersama blog.

Mampirlah ke Danau Singkarak


IMG_0765

Desember 2014 lalu saya berkesempatan mengunjungi danau terbesar kedua di Pulau Sumatra yaitu Danau SIngkarak. Sebenarnya saya tidak mengkhususkan diri untuk berwisata ke Danau Singkarak tetapi saya mampir sewaktu kepulangan saya dari pesta pernikahan teman saya. Nah menurut saya sangat disayangkan kalau sudah sampai di Kabupaten Solok tetapi tidak mampir ke Danau Singkarak. Kesan pertama saya saat sampai di Danau Singkarak adalah airnya yag sangat jernih sehingga saya bisa melihat ikan ikan kecil berenang di bawah air. Selain itu di sekeliling danau juga terdapat rel kereta api, sayang saya tidak melihat kereta apinya, mungkin akan jadi lebih indah jika ada kereta api batu bara yang melintas di tepi danau pasti akan terasa seperti zaman Siti Nurbaya deh haha. Panoramanya juga sangat dengan dilatari oleh Gunung  Singgalang. Sayang saya tidak bisa berlama-lama menikmati keindahan alam Danau Singkarak karena harus kembali ke rumah saya yang berjarak lebih dari 200 km. Saya sempat foto-foto dan foto selfie dan silahkan mampir di Danau Singkarak SmileIMG_0778

IMG_0822

Setelah Tujuh Tahun


Pacu Jalur

2007, 2008, 2009, 2010, 2011, 2012, 2013 adalah tahun dimana saya melewatkan gelaran Pacu Jalur di kampung halaman saya yaitu di Kuantan Singingi. Tepat tujuh tahun yaitu tahun 2014 akhirnya saya berkesempatan untuk menyaksikan secara langsung gelaran Pacu Jalur. Kebayang kan gimana rasanya ketemu sama seseorang yang sangat kita kenal kemudian berpisah selama tujuh tahun dan akhirnya ketemu lagi, ya seperti itulah yang saya alami ketika kembali menyaksikan Pacu Jalur (-maaf ya bahasanya agak lebay hihi-). Tapi jujur saya memang merasa nervous juga haha. Selama ini saya hanya mendengar kabar bahwa event nasional kebanggan Kuantan Singingi ini sudah berubah menjadi lebih meriah dibandingkan tujuh tahun yang lalu. Yang ada dalam benak saya apa iya menjadi jauh lebih meriah? Kalau memang lebih meriah, semeriah apa sih gelarannya sekarang? dan berbagai pertanyaai skeptis lainnya. Ditambah lagi kali ini saya datang ke gelaran Pacu Jalur dengan status yang berbeda, saya sejak tahun 2011 telah menasbihkan diri saya sebagai enthusiast photographer (– aiiiih mateeee hahahaha-) Smile with tongue out Smile with tongue out Smile with tongue out. Jadi kali ini saya datang ke Pacu Jalur dengan sebuah misi mulia yaitu ingin mendokumentasikan Pacu Jalur dengan cara saya sendiri.

Pacu Jalur

Pacu Jalur

Persiapan sudah saya lakukan, tetapi tetap saja saat hari –H semuanya jadi agak berantakan. Berantakan yang pertama adalah saya terjebak macet hehe. Iya macet, kota Taluk Kuantan menjadi lautan manusia. Mobil saya sudah tidak bisa bergerak, semua parkiran penuh dan beberapa ruas jalan ditutup. Jangankan mengunakan mobil, berjalan kaki saja sudah sulit. Berantakan yang kedua adalah lensa tele saya yang mulai berulah. Setelah satu tahun saya beli, lensa tele murah meriah unyu-unyu Smile with tongue out si Tamron AF (70-300 mm) 1:4-5.6 sering tidak matching dengan Canon 60D saya Sad smile. Berkali-kali pesan “Err 01” muncul di layar kamera saya, rasanya saya pengen ganti lensa saya dengan lensa tele Canon seri L, tapi apalah daya hahaha. Singkat cerita saya hampir gagal (-jika tak mau disebut gagal total-) mendokumentasikan Pacu Jalur.

Pacu Jalur

pacu jalur

Tapi terlepas dari ke-rempong-an saya dan ke-berantakan-an saya saya puaaaas.Kangen selama tujuh tahun tuntas sudah. Pacu Jalur memang sudah banyak bersolek selama tujug tahun terakhir. Applause buat semua stakeholder yang terlibat dalam penyelenggaraan Pacu Jalur. Gadis kecil bernama Pacu Jalur yang saya kenal tujuh tahun lalu saya kenal sekarang sudah semakin matang dan semakin elok parasnya. Jujur sebagi masyarakat Kuantan Singingi saya bangga dengan Pacu Jalur yang terus membaik. pengunjung yang semakin ramai. Sekarang impian untuk menjadikan Pacu Jalur sebagai event internasional rsanya bukan hal yang mustahil dalam kurun waktu 20 atau 30 tahun lagi. Tapi tentunya hal itu tidak mudah. Satu pertanyaan yang harus kita renungkan bersama adalah adakah katu yang bisa kita buat menjadi jalur pada 20 atau 30 tahun mendatang?

yah, walaupun saya tidak sukses mendokumentasikan pacu jalur, mungkin memang pacu jalur tidak perlu didokumentasikan karena memang sudah terpatri dalam ingatan saya Smile

Pacu Jalur

Pacu Jalur

Pacu Jalur

Pacu Jalur

Pacu Jalur

Pacu Sampan


 

Pacu Jalur Mini

Keadaan alam mempunyai kaitan yang sangat kuat dengan kebudayaan pada satu daerah. Seperti yang terjadi di Kabupaten Indragiri Hulu (INHU). Salah satu keadaan alam yang mempengaruhi kebudayaan di Kab. Inhu adalah sungai Indragiri. Bisa diibaratkan sungai Indragiri adalah pembuluh darah nadi dari Kab. Inhu. Nama Kabupaten Indragiri Hulu sendiri juga diambil dari nama sungai yang mengaliri daerahnya. Cerita tentang kemashuran kerajaan, hikayat-hikayat kuno hampir selalu berhubungan dengan sungai ini.

Pacu Jalur Mini

Nah, kali ini saya akan bercerita tentang kebudayaan yang sangat erat dengan sungai yaitu Pacu Sampan. Pacu bisa diartikan “balap” sehingga sesuai namnya Pacu Sampan adalah balap sampan. Sama dengan pertandingan sepak bola Pacu Sampan mempertandingkan dua sampan dengan panjang sekitar 10 meter dan didayung oleh 10 orang pendayung atau yang disebut anak pacu. Sistem yang digunakan adalah sistem gugur, jadi sampan yang kalah tidak akan bertanding lagi. Pertandingan Pacu Sampan disebut “Ilir” ini dimaksudkan karena pacu sampan diadakan searah dengan arus sungai atau menuju hilir sungai. Sampan akan beradu kecepatan pada lintasan lurus dengan jarak 500 m. Setiap menepuh 100 m akan ada penanda yang disebut pancang, jadi total ada tujuh pancang termasuk pandang start dan pancang finish. Pada Pacu Sampan juga dikenal istilah “putus” tapi ini bukan putus yang sedang marak d kalangan anak muda loh ya *mrgreen*, putus adalah istilah ketika salah satu sampan telah meninggalkan lawannya sehingga buritan sampan sudah melewati anjungan sampan lawan. Akan menjadi tidak seru apabila sebuah ilir (pertandingan) sudah putus pada pancang kedua, artinya kekuatan kedua sampan tidak berimbang. Sebaliknya sangat menarik apabila sampan yang sudah putus (sudah ditinggalkan lawannya) bisa mebaikkan keadaan dan keluarsebagai pemenang. Sebenarnya masih banyak lagi hal-hal unik yang ada di Pacu Sampan, tapi saya cukupkan dulu ya sampai disini, nanti akan saya sambung lagi sekalian saya ceritakan tentang Pacu Jalur. Apa itu Pacu Jalur? tunggu di postingan saya selanjutnya Smile.

Pacu Jalur Mini

Untungnya Pernah Menulis


IMG_5581

Ini bukan pertama kalinya saya mensyukuri nikmat karena telah dibukakan hati dan pikiran saya untuk suka menulis (setidaknya menulis di blog). Banyaaaak sekali alasan yang mebuat saya harus bersyukur karena Alhamdulillah hingga saat ini saya masih menulis. Salah satunya adalah ketika saya mengalami…. apa ya, ah entahlah apa namanya tapi yang jelas saya jadi malas untuk menulis. Saya tidak mengalami writer block karena saya memang berhenti menulis, bukan kehilangan ide, tapi hanya untuk sekedar menulis komen pun saya malas. Kesibukan, naif jika saya menghilangkan faktor ini dari kemalasan saya menulis. Setahun terakhir ini memang waktu saya banyak tersita karena saya harus menjalani koas Dokter Hewan. Komitmen awal untuk terus ngeblog sebagai penghilang rasa jenuh saat koas hanya tinggal komitmen. Rencana awal akan banyak membuat tulisan di blog tentang kasus yang ditemui di koas juga tinggal rencana. Semuanya menguap begitu saja hingga tahun 2014 ini mungkin menjadi tahun yang paling tidak produktif saya dalam dunia blog. Blog yang pernah membuat saya tersenyum bangga sekarang menjadi blog yang terbengkalai. Saya mau cerita, blog kesayangan ini di masa jayanya pernah memiliki peringkat dibawah satu juta loh, dan pernah diberi rating 2 (dari skala 10) oleh google. Dan jerih payah saya itu sekarang tinggal menjadi blog yang tidak rutin ada posting baru. Blog yang tidak memberi tanggapan jika ada komentar yang masuk. Dan saya menjadi Blogger murtad yang sudah malas blogwalking. Bisa disimpulkan semua itu karena masalah keterbatasan waktu. Sekarang saya punya waktu, kesibukan saya tidak sepadat seperti saat saya menjalani koas, tapi apakah saya langsung bisa kembali menulis seperti sedia kala? jawabannya absolutely not. Saya tidak lantas langsung bisa tancap gas. Masalah baru timbul, dan ini mungkin yang disebut writer block. Bukan bahan yang tidak ada, bukan waktu yang tidak sempat, tapi entahlah, tulisan yang menurut saya tidak malu-maluin saja tidak tercipta. Entah berapa kali saya dikritik oleh pacar saya “Kok tulisanmu cuma gitu” “pendek banget” “Ga ada soulnya”. Saya cuma bisa nyengir kuda. Saya baca kembali tulisan saya , dan ternyata benar, “tulisan saya cuma gitu”.

Saya baca kembali tulisan saya dan ternyata benar, “tulisan saya cuma gitu”

Saya jadi mikir, gimana ya caranya agar cara menulis yang dulu pernah saya dapat bisa kembali lagi. Dalam pikiran saya, saya sudah menulis dengan cara menulis saya, tetapi faktanya tulisan yang saya hasilkan tidak seperti dulu lagi. Tidak seperti sebelum negara api menyerang –halah-. Saya tidak menemukan jalan keluar sampai apada suatu hari di bulan juli –yang ini bohong kok- saya membaca-baca kembali tulisan di blog saya. Lumayan banyak, walaupun masih belum tembus angka 200. Saya baca kembali dan terus baca seakan saya membaca tulisan orang lain. Di awal-awal tulisan saya masih belum konsisten, makin lama semakin terlihat pola yang saya gunakan. Dan seketika saya tersentak, saat itu saya belajar pada diri saya yang lama, diri saya sebeum diserang oleh negara api –apasiiiiiiih haha-. Terlintas dibenak saya, jika saya tidak pernah menulis saya tidak akan pernah belajar dari diri saya yang dulu. Dan setelah saya renungkan, belajar pada diri kita sendiri bisa juga dilakukan pada semua aspek kehidupan. Termasuk dalam menjalani hidup. Saya menulis diari, dan tak jarang saya menemukan solusi dari diari saya. Ketika saya menghadapi masalah yang pernah saya hadapi sebelumnya maka saya bisa mengambil perbandingan bagaimana cara saya menyiasati permasalah tersebut. Termasuk masalah sama pacar haha. Andai saja saya tidak pernah menulis, maka semua itu akan sulit dilakukan. Saya sudah sampaikan berkali kali di blog ini bahwa saya tidak bisa mengingat banyak hal. Otak manusia mempunyai keterbatasan.Dan saya termasuk orang yang tidak suka mengingat. Dan FYI baru-baru ini saya dimarahin oleh pacar saya gara-gara saya mengingat orang berdasarkan kaca matanya haha. Jadi ketika orang tersebut ganti kaca mata tanpa sepengetahuan saya sangat mungkin saya akan pangling.

Menulis bisa diartikan meninggalkan jejak. Jika saya tidak pernah menulis saya tidak akan tahu pasti sejauh mana saya sudah melangkah. Sejauh mana saya maju, atau bahkan sejauh mana saya mundur atau melenceng. Majunya saya atau mendurnya saya tentu harus ditentukan dari suatu titik yang dijadikan patokan. Nah menulis mungkin bisa diartikan sebagai membuat titik acuan sebagai penanda perjalan hidup kita. Tetap membac, membaca, membaca, dan menulis, karena tanpa membaca tulisan kita akan hampa.