Daging Oh Daging


P_20160609_085816[1]

Sudah bosan rasanya mendengar berita tentang harga daging yang terus naik. Hampir setiap menjelang Idul Fitri bisa dipastikan harga daging naik. Sebelumnya saya luruskan disini bahwa yang dimaksud daging dalam tullisan ini adalah daging sapi. Mengapa ini penting karena daging-daging yang lain masalahya tidak se-heboh dan se-kompleks permasalahan daging sapi. Sesekali masalah daging ayam juga menyeruak, bahkkan sempat heboh dan kabarnya sudah ada beberapa pihak yang sudah dijatuhi hukuman akibat kenaikan harga ayam yang ternyata ulah para kartel. Kembali ke masalah daging sapi, menurut saya ada beberapa poi penting dalam masalah ini antara lain.

Produksi dalam negri masih kurang

Suka tidak suka, cinta tidak cinta kita harus akui bahwa populasi sapi kita masih kurang. Saya tidak punya data yang pasti tapi percayalah, jika kita hanya mengandalkan produksi dala negeri niscaya anak cucu kita tidak tahu seperti apa bentuk sapi bali. Lalu apa penyebab produksi dalam negeri masih kurang? karena pola pemeliharaan kita yang masih secara tradisional. Tidak ada yang salah dengan pemeliharaan secara tradisional, tapiiii jika kita ngin menggenjot produksi sapi dalam negri maka kita harus berubah. Pemerintah sudah berupaya untuk meningkatkan produksi. Dari segi teknologi ada program inseminasi buatan, penyerentakan berahi, transfer embrio, dan masiih banyak lagi yang lainnya. Petugas di lapangan saya kira juga sangat bisa diandalkan untuk mendukung peningkatan populasi. Kalau boleh saya analogikan dengan pemain tinju, saat ini kita masih kelas amatir, nah semaksimal2nya kelas amatir jelas masih jauh hasilnya jika dibandingkan dengan kelas berat, inilah yang saya maksud, sudah saatnya kita naik kelas ke kelas berat.

Tata Niaga yang masih amburadul

Anda pernah mendengar istilah “politik dagang sapi”? dunia dagang sapi adalah dunia yang tidak pasti. Kalau boleh saya sebut bahwa dunia dagang sapi penuh trik dan muslihat yang kadang tidak masuk akal. Yang pertama adalah peternak tidak punya akses langsung ke pasar. Hasil akhiir dari sapi adalah daging, sementara peternak tidak menjual daging, yang mereka jual adalah sapi. Ada pihak ketiga, keempat, kelima dan seterusnya yang mengisi jarak antara peternak dengan konsumen. Tentunya setiap pihak yang terlibat menginginkan keuntungan, hitung sendiri cost yang harus dibayar dalam rantai itu. Rantai yang panjang tadi sangat tidak efisien, konsumen tetap mendapatkan daging dengan  harga yang tinggi sedangkan peternak sebagai produsen masih saja menjual dengan harga yang rendah. Belum lagi masih banyaknya peternak yang menjual sapinya dengan metode taksir. Artinya tidak ada patokan harga sapi. Sebenarnya di beberapa daerah sudah digunakan patokan bobot hidup, tetapi sebagian besar di Indonesia ini jual beli sapi masih dengan meggunakan sistem taksir (kira-kira) atau tidak menggunakan timbangan. Jika kedua belah pihak sudah sepakat pada harga tertentu maka sai sudah bisa diangkut dan berpindah tangan. Tak jarang praktek jual beli dibarengi dengan praktek intimidasi, ijon, dan trik-trik kotor lainnya.

Tata kelola sapi yang masih peralu diperbaiki

Masalah pada poin pertama berhubungan dengan masalah pada poin ini. Kurangnya produksi dala negri juga disebabkan karena peternakan kita belum dikelola dengan baik. Hingga hari ini kita masih menggantungkan produksi sapi kita dari peternakan rakyat. Disinilah timbul masalah, peternakan rakyat mayoritas tidak berorientasi pada pasar. Peternak indonesia memelihara sapi untuk tabungan, mereka menjual sapi saat mereka butuh uang, kadang tanpa peduli dengan harga yang mereka dapatkan. Tidak ada manajemen yang melihat supply and demand di pasar sehingga peternak bisa mendapatkan hasil yang optimal. Kasrnya begini, jika anda ingin membeli sapi dengan harga miring silahkan anda beli saat akan masuk tahun ajaran baru di sekolah, banyak peternak yang butuh uang. Ini jelas tidak baik untuk peternak dan untuk kebutuhan nasional. Dengan pola pikir yang memandang sapi sebagai tabungan, bukan sebagai komoditas maka produksi daging akan sulit diproyeksikan. Disinilah harus kita pahami bahwa di negri ini produksi sapi dengan produksi daging adalah dua hal yang berbeda. Anggaplah ada stock sapi yang cukup untuk idul fitri, pertanyaannya apakah sapi tersebut sudah siap untuk dipotong? jika masih di tangan peternak berarti sapi tersebut belum siap untuk dipotong.

waduh, kok postngan saya jadi serius gini, saya lanjut aja di bagian dua ya, semoga berkenan Smile salam dari kandang sapi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s