Untungnya Pernah Menulis


IMG_5581

Ini bukan pertama kalinya saya mensyukuri nikmat karena telah dibukakan hati dan pikiran saya untuk suka menulis (setidaknya menulis di blog). Banyaaaak sekali alasan yang mebuat saya harus bersyukur karena Alhamdulillah hingga saat ini saya masih menulis. Salah satunya adalah ketika saya mengalami…. apa ya, ah entahlah apa namanya tapi yang jelas saya jadi malas untuk menulis. Saya tidak mengalami writer block karena saya memang berhenti menulis, bukan kehilangan ide, tapi hanya untuk sekedar menulis komen pun saya malas. Kesibukan, naif jika saya menghilangkan faktor ini dari kemalasan saya menulis. Setahun terakhir ini memang waktu saya banyak tersita karena saya harus menjalani koas Dokter Hewan. Komitmen awal untuk terus ngeblog sebagai penghilang rasa jenuh saat koas hanya tinggal komitmen. Rencana awal akan banyak membuat tulisan di blog tentang kasus yang ditemui di koas juga tinggal rencana. Semuanya menguap begitu saja hingga tahun 2014 ini mungkin menjadi tahun yang paling tidak produktif saya dalam dunia blog. Blog yang pernah membuat saya tersenyum bangga sekarang menjadi blog yang terbengkalai. Saya mau cerita, blog kesayangan ini di masa jayanya pernah memiliki peringkat dibawah satu juta loh, dan pernah diberi rating 2 (dari skala 10) oleh google. Dan jerih payah saya itu sekarang tinggal menjadi blog yang tidak rutin ada posting baru. Blog yang tidak memberi tanggapan jika ada komentar yang masuk. Dan saya menjadi Blogger murtad yang sudah malas blogwalking. Bisa disimpulkan semua itu karena masalah keterbatasan waktu. Sekarang saya punya waktu, kesibukan saya tidak sepadat seperti saat saya menjalani koas, tapi apakah saya langsung bisa kembali menulis seperti sedia kala? jawabannya absolutely not. Saya tidak lantas langsung bisa tancap gas. Masalah baru timbul, dan ini mungkin yang disebut writer block. Bukan bahan yang tidak ada, bukan waktu yang tidak sempat, tapi entahlah, tulisan yang menurut saya tidak malu-maluin saja tidak tercipta. Entah berapa kali saya dikritik oleh pacar saya “Kok tulisanmu cuma gitu” “pendek banget” “Ga ada soulnya”. Saya cuma bisa nyengir kuda. Saya baca kembali tulisan saya , dan ternyata benar, “tulisan saya cuma gitu”.

Saya baca kembali tulisan saya dan ternyata benar, “tulisan saya cuma gitu”

Saya jadi mikir, gimana ya caranya agar cara menulis yang dulu pernah saya dapat bisa kembali lagi. Dalam pikiran saya, saya sudah menulis dengan cara menulis saya, tetapi faktanya tulisan yang saya hasilkan tidak seperti dulu lagi. Tidak seperti sebelum negara api menyerang –halah-. Saya tidak menemukan jalan keluar sampai apada suatu hari di bulan juli –yang ini bohong kok- saya membaca-baca kembali tulisan di blog saya. Lumayan banyak, walaupun masih belum tembus angka 200. Saya baca kembali dan terus baca seakan saya membaca tulisan orang lain. Di awal-awal tulisan saya masih belum konsisten, makin lama semakin terlihat pola yang saya gunakan. Dan seketika saya tersentak, saat itu saya belajar pada diri saya yang lama, diri saya sebeum diserang oleh negara api –apasiiiiiiih haha-. Terlintas dibenak saya, jika saya tidak pernah menulis saya tidak akan pernah belajar dari diri saya yang dulu. Dan setelah saya renungkan, belajar pada diri kita sendiri bisa juga dilakukan pada semua aspek kehidupan. Termasuk dalam menjalani hidup. Saya menulis diari, dan tak jarang saya menemukan solusi dari diari saya. Ketika saya menghadapi masalah yang pernah saya hadapi sebelumnya maka saya bisa mengambil perbandingan bagaimana cara saya menyiasati permasalah tersebut. Termasuk masalah sama pacar haha. Andai saja saya tidak pernah menulis, maka semua itu akan sulit dilakukan. Saya sudah sampaikan berkali kali di blog ini bahwa saya tidak bisa mengingat banyak hal. Otak manusia mempunyai keterbatasan.Dan saya termasuk orang yang tidak suka mengingat. Dan FYI baru-baru ini saya dimarahin oleh pacar saya gara-gara saya mengingat orang berdasarkan kaca matanya haha. Jadi ketika orang tersebut ganti kaca mata tanpa sepengetahuan saya sangat mungkin saya akan pangling.

Menulis bisa diartikan meninggalkan jejak. Jika saya tidak pernah menulis saya tidak akan tahu pasti sejauh mana saya sudah melangkah. Sejauh mana saya maju, atau bahkan sejauh mana saya mundur atau melenceng. Majunya saya atau mendurnya saya tentu harus ditentukan dari suatu titik yang dijadikan patokan. Nah menulis mungkin bisa diartikan sebagai membuat titik acuan sebagai penanda perjalan hidup kita. Tetap membac, membaca, membaca, dan menulis, karena tanpa membaca tulisan kita akan hampa.

2 thoughts on “Untungnya Pernah Menulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s