Dewasa Bukan Pilihan


Banyak yang mengatakan bahwa proses menjadi tua adalah sesuatu yang pasti, tetapi menjadi dewasa adalah pilihan. Perntaan itu ada benarnya, ini dikarenakan untuk menjadi dewasa bukanlah hal yang mudah. Perlu usaha dan keinginan untuk menjadi dewasa.

Beberapa waktu yang lalu saya membaca seorang junior saya di facebook. Inti dari statusnya adalah dia merasa bahagia menjadi dari organisasi tempat saya bernaung. Alasan dia adalah kerena banyak sekali orang yang menginspirasinya di organisasi tersebut. Sekilas saya baca status tersebut ada rasa bangga yang say rasakan. Tetapi setelah beberapa saat, rasa bangga tersebut berubah jadi rasa harus bertanggung jawab. Sebagai senior saya harus bisa menjadi seseorang yang bisa menginspirasi para junior saya. Saya tahu ini bukan hal yang mudah. Secara tidak langsung saya harus menjadi dewasa, harus bisa menjadi contoh untuk para junior saya.

Kembali ke proses menuju dewasa. Inilah alasan saya mengapa saya mengatakan bahwa proses kedewasaan bukanlah pilihan, melainkan hal yang harus saya lakukan. Tanpa saya sadarai, saat ini ada junior-junior kita yang terus mengamati tingkah laku saya. Dan bukan salah mereka jika saya dijadikan sumber inspirasi oleh mereka. Dan sangat disayangkan apabila mereka tidak mendapatkan inspirator yang benar-benar bisa dijadikan inspirasi.

Kebahagiaan yang berebeda akan saya dapatkan ketika saya berhasil mendorong orang lain untuk melakukan hal baik. Beberapa hari lalau saya “ngomporin” (memotivasi) junior saya untuk mengirimkan liputan kegiatan ke redaksi kompas. Ternyata junior saya malah mengirimkan tulisannya yang lain, dan ternyata tulisan junior saya ini dijadikan topik pada kompas kampus edisi minggu lalu. Walaupun tulisan saya belum pernah menembus Kompas, tetapi seakan-akan saya bisa merasakan kebahagiaan junior saya tersebut.

Tetapi menginspirasi dan memotivasi orang lain saja belum cukup. Memotivasi diri sendiri dan menginspirasi diri sendiri jauh lebih sulit dan lebih penting. Saya juga tidak ingin menjadi lilin yang bisa menerangi sekitarnya tapi dia sendiri akan habis. Saya harus bisa mencapaitujuan saya sendiri, cita-cita saya sendiri. Saya tidak boleh hanya puas dengan melihat keberhasilan orang yang saya dorong untuk meakukan sesuatu.Suatu saat saya harus meraskan sendiri kebahagiaan itu. Denga arti kata lain, saya harus menjadi dewasa.

6 thoughts on “Dewasa Bukan Pilihan

  1. Kalau saya Dewasa itu tetap pilihan, Mas…
    Karena untuk jadi “Dewasa”, orang harus berjuang… Bahkan menjadi contoh itu pun butuh perjuangan…
    Yang tidak berjuang, akan tetap jadi kekanak-kanakan…

  2. Inspirator saya adalah diri saya di masa balita. Bayangkan, begitu hebatnya perjuangan saya, begitu gigih semangat saya, dari yang tadinya tidak bisa berjalan, saya berusaha untuk bisa berdiri dan berjalan bipedal, di atas dua kaki, dan bukan lagi berjalan quadrupedal seperti yang dilakukan primata seperti monyet.

    Inspirator saya adalah diri saya sendiri, bagaimana tidak, banyak hal berat yang sudah bisa saya lalui. Dan sekali lagi, inspirator saya adalah profil diri saya sendiri. Tidak ada orang sehat yang tertinggal jiwanya di masa kanak-kanak, karena Dewasa adalah bagian dari perjalanan hidup yang mendekat kepada kematian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s