Ketika Trendsetter dan Follower Ga Nyambung


Sebelum saya mengutarakan pendapat pribadi saya, saya ingin mengucapkan maaf kepada semua pihak apabila dalam pendapat saya ini terdapat hal-hal yang keliru. Ini adalah pendapat pribadi saya. Tidak ada unsur politis apapun dalam pendapat saya ini. Ini hanyalah celotehan seorang penggemar SID dan Greenday yang sedang susah tidur.

Saya memang bukan anak punk, saya hanya penggemar SID (Superman Is Dead) dan Greenday, dua band punk favorit saya. Saya pernah tertarik dengan prinsip hidup punk. Mereka mempunyai prinsip yang mereka sebut “anti kemapanan”. Mereka kritis terhadap kebijakan pemerintah. Mereka adalah orang yang peduli terhadap keadaan sosial di lingkungannya. Coba saja dengar lagu SID “Punk Hari Ini”. Atau lagu Greenday “American Idiot”. Semuanya menyuarakan pemberontakan. Anak punk tidak takut kepada siapapun demi membela kebebasan, dan demi kebaikan masyarakat tentunya. Lalu apa yang terjadi di sekitar kita. Saya punya pengalaman ketika saya dalam perjalanan menuju solo. Ketika saya sampai di cirebon, ada sekelompok anak muda masuk ke dalam bus dan membacakan puisi dengan cara berteriak-teriak. Dan pada akhirnya mereka memaksa semua penumpang untuk meberikan uang. Mereka memaksa dengan tindakan fisik. Menurut saya itu sudah tidak termasuk ngamen, tapi malak. Apakah punk seperti ini? saya rasa tidak.

Mungkin ada benarnya masyarakat langsung alergi jika mendengar kata-kata tentang anak punk. Yang jelas cara berpakaian mereka akan sulit diterima di lingkungan masyarakat. Terus terang saya bingung. Dulu saya membayangkan bahwa anak punk adalah seseorang dengan dandanan khas punk, tampang sangar, tetapi ketika melihat seorang ibu kesulitan membawa barang bawaannya mereka dengan sigap membantu. Atau ketika ada seorang nenek yang kesulitan menyebrang jalan, mereka juga dengan sigap membantu. Dulu bagi saya anak punk adalah hero. Sampai akhirnya saya bertemu dengan orang yang menyebut dirinya punkers jalanan. Saya tidak pernah melihat mereka melakukan apa yang seperti saya bayangkan.

Beberapa waktu lalu saya mendengar berita di metro tv. Pada wawancara dihadirkan dua orang nara sumber. Salah satu nara sumber mengatakan bahwa ada istilah “punk alay”. Mereka adalah anak jalanan yang mengaku-ngaku punk, tapi sebenarnya mereka tidak mengerti apa itu punk. Saya juga pernah membaca sebuah blog yang menyatakan keprihatinannya akan perilaku fans SID yang menghina PeWe Gaskin. Tautan blognya sampai dishare di Facebook oleh fanpage SID. Rasanya kok tidak sinkron antara punk yang menghargai perbedaan dengan kenyataan yang terjadi. Sekali lagi, apakah perbuatan seperti itu mencerminkan punk? saya rasa juga tidak. Saya berfikir telah terjadi miss antara punk dengan para pengikutnya.

Saya berpendapat bahwa punk bukanlah seburuk yang kita pikirkan selama ini. Mengenai tindakan yang mersahkan warga, saya memandangnya sebagai PR buat kita semua. Itu adalah tanda bahwa negara kita belum mampu mensejahterakan rakyatnya. Tapi kita juga tidak bisa menyalahkan pemerinah saja, itu adalah tanggung jawab kita semua.

Negara ini negara bebas. Bagi anda yang punk, silahkan anda dengan punk anda tapi please jangan mengganggu kebebasan warga negara lainnya. Saya tahu anda adalah orang yang sangat menghargai perbedaan. Dan bagi anda yang mengaku punk, tolong jangan pakaiannya saja yang punk, tapi hatinya juga. Saya harap anda malu dengan gelang duri dan piercing yang anda pakai tapi anda tidak ramah terhadap orang lain terutama wanita.

14 thoughts on “Ketika Trendsetter dan Follower Ga Nyambung

  1. Pernah ngalamin hal yang serupa di Bekasi,, bukan sekali,, tapi tiap kali ke Bekasi,, mudah mudahan itu kebetulan, Yah emang ada benernya juga sh,, kalau Gak sealiran dengan apa yang mereka ikuti,, kebanyakan MUNGKIN mengambil kata Kebebasannya aja yh. Jadi banyak yang Bebas bebasan deh,, terserah mereka mw ngapain

  2. Like this banget sebanget-bangetnya… dulu pas SMP saya juga nganggep Punk itu benar-benar seperti yang mas tuliskan di atas: sangar, tapi baik hati. Dulu saya pernah ngedenger cerita, kalau di jalanan ada anak punk yang nongkrong, tuh jalanan pasti aman. Siapapun nggak bakal takut-takut lewat di depan anak punk yang nongkrong, mereka akan menyapa dengan hangat, membantu menyeberangkan orangtua, dan sebagainya. Ada masa-masanya saya suka banyak sekali pemusik Punk. Bahkan sampai SMA pun saya masih ada jiwa-jiwa seperti itu.

    Namun belakangan ini… ya sama seperti yang mas tulis di atas. Di Bogor juga sering ada kejadian gitu. Saya menjadi berpikir… apakah arti dari Punk sudah berubah sekarang, ataukah saya yang tidak bisa lagi mengerti apa itu Punk?😦

  3. Oh begitu ya Punk yang sebenarnya…
    Baru tahu saya…
    Yang ada di benak saya tentang Punk itu seperti preman sih sebenarnya (menurut yang saya lihat), mungkin mereka belum berhati Punk yang sebenarnya, ya…

  4. Wah, saya besar di jaman image punk udah seperti yang sekarang ini kak, jadi ya ngga ngerti kalau ternyata punk pernah punya image yang baik meski akhirnya disalahartikan dan jadi makin buruk hari-hari ini😐

  5. Well said, Gung.
    Yang seperti ini sering saya liat di bus kota. Dua atau tiga orang naik ke bus langsung minta duit. Biasanya sih kita cuekin aja. Trus mereka marah dan meninju atap bus berkali-kali sambil mengeluarkan kata-kata kotor. Tapi mereka ngga berani nyolek penumpang. Kayaknya mereka juga tau, kalo nekad nyolek bakal ditendang keluar sama penumpang bus, sopir dan kenek.🙂

  6. sederhana kawan, mereka itu bukan punk, punk tidak ada yang ngemis, maksa, punk juga bukan penampilan, punk itu jiwa perlawanannya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s