Menjadi Netral, Menjadi Bijaksana


Menurut saya kata bijaksana memiliki arti yang kurang jelas. Suatu tindakan yang dikatana bijaksana sangat tergantung dengan situasi dan kondisi pada saat tindakan tersebut dilakukan. Begitu juga halnya dengan keputusan bijaksana. Suatu keputusan yang dianggap bijaksana pada suatu tempat belum tentu akan dianggap bijaksana di tempat lain. Jadi agak sulit untuk mendeskripsikan secara jelas bagaimana keputusan atau tindakan yang bijaksana itu.

Hari jumat (16 desember 2011) lalu saya ditugaskan untuk memimpin rapat. Rapat ini berbeda karena pada rapat ini akan dipilih seorang pemimpin. Ini pengalaman pertama saya memimpin rapat seperti ini. Beruntung bagi saya karena tidak ada unsur politik yang mengintervensi rapat ini. Saya tidak bisa membayangkan apa yang bakal terjadi jika kejadian seperti pada kongres PSSI beberapa waktu lalu terjadi pada rapat yang saya pimpin.

Saya berfikir, jangankan untuk mengambil suatu keputusan yang bijaksana, untuk menjadi netral saja menurut saya bukanlah hal yang mudah. Berfikir objektif dan netral akan mendukung terciptanya keputusan yang bijaksana. Oleh karena itu pada rapat kemrin saya hanya mencoba untuk menjadi netral, itu saja. Saya brusaha se-objketif mungkin menampung semua usulan yang masuk, dan menyimpulkannya.

Nah, bagaimana dengan anda, apakah pernah mengalami hal yang sama dengan saya?

5 thoughts on “Menjadi Netral, Menjadi Bijaksana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s