Terserah Mama


Masa-masa dimana kita duduk di sekolah dasar bisa dibilang masa yang paling indah dalam hidup ini. Pada masa itu tidak sedikitpun terfikir oleh kita beban hidup. Semua dijalani dengan penuh kegembiraan. Banyak sekali cerita lucu yang akan membuat kita terbahak-bahak ketika mengenangnya.

Saya sendiri masuk sekolah dasar pada tahun 1995. Saat itu umur saya sudah 7 tahun 6 bulan. Saya termasuk anak yang terlambat masuk sekolah. Sebenarnya orang tua saya sudah berniat memasukkan saya ke sekolah pada tahun sebelumnya yaitu tahun 1994, tetapi saat pendaftaran sekolah dibuka saya sedang menderita sakit disentri. Sudah hampir satu bulan sebelumnya saya menderita sakit. Badan saya menjadi kurus, padahal sebelumnya saya dijuluki “Mike Tyson” oleh abang saya karena saya gemuk dan pendek seperti Myke Tyson. Keadaan saya saat itu membuat orang tua saya tak tega untuk memasukkan saya ke sekolah. Apalagi saat itu saya belum mengerti apa itu sekolah. Jika mama saya bertanya kepada saya “dik agung mau sekolah enggak?” jawaban saya  malah “terserah mama”. Padahal waktu itu saya sudah sangat terobsesi dengan ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia). Abang saya sering meledek “ mau masuk ABRI kok ga mau sekolah” dengan santainya saya menjawab “jadi tukang sapunya ABRI juga ga apa-apa deh”. Ya saat itu saya sudah bisa menyapu membantu mama saya. Namun, kiranya keterlambatan saya masuk sekolah memberikan hikmah yang lain bagi saya. Saya menjadi lebih siap secara fisik maupun mental.

Sekolah saya adalah SDN 017 Muara Langsat. Sebuah sekolah di daerah transmigrasi  di Propinsi Riau. Sekolah saya sangat berdekatan dengan rumah saya. Bahkan karena dekatnya sekolah dengan rumah saya, saya tidak akan berangkat ke sekolah sebelum bel tanda masuk berbunyi. Dan ketika bel istirahat berbunyi saya tidak lari ke kantin seperti teman-teman saya. Saya lari pulang ke rumah untuk makan. Mama saya memang mengajarkan sikap hemat kepada anak-anaknya. Salah satunya adalah budaya makan di rumah –sebenarnya ini termasuk tindakan membolos sekolah lho. Saya diberi uang jajan seminggu sekali setiap hari sabtu –hari pasar di kampung saya. Saat kelas satu uang jajan saya Rp. 25,- itu sudah cukup untuk membeli jajanan kesukaan saya yaitu pisang goreng yang harganya Rp. 15,-. Saya memang kurang tertarik dengan snack kemasan seperti mi gemesz atau yang lain yang marak di kalangan anak SD pada saat itu.

Sikap hemat juga diajarkan oleh bapak saya. Yang sangat ingat adalah ketika beliau membelikan sepatu buat saya. Bapak saya membelikan saya sepatu yang lebih bagus dibanding sepatu teman-teman saya. Menurut beliau harga sepatu saya memang lebih mahal, tetapi lebih awet dibandingkan sepatu teman-teman saya. It’s work, saya memakai sepatu itu selama tiga tahun. Memang saat pertama kali dipakai agak kebesaran jadi tidak masalaha saya memakainya selama tiga tahun. Sepatu itu menjadi sepatu favorit saya. Mereknya STARMOON dengan gambar robot di sisi luarnya.

Rasanya tak lengkap jika saya tidak menceritakan guru saya waktu SD dulu. Sebenarnya ada banyak guru saya di sekolah dasar. Tapi saya tidak akan menceritkan semuanya. Setidaknya ada tiga orang guru yang paling membekas dalam kenangan saya. Beliau itu adalah Pak Parjiyo, Bu Hasniati, dan Pak Dahlan. Pak Parjiyo adalah guru saya di kelas 4,5, dan 6. Ya, tiga tahun berturut-turut. Setengah masa saya sekolah di SD saya habiskan bersama beliau.Prkatis banyak sekali nasihat dari beliau yang saya terima. Saya kadang merasa malu jika mengenang nasihat dan harapan-harapan beliau tentang saya, rasanya masih banyak kekurangan yang harus saya perbaiki. Pak Dahlan juga sama dengan Pak Parjiyo. Bedanya beliau adalah guru agama islam. Banyak sekali pelajaran yang diajarkan oleh beliau. Dan satu lagi yang menarik, beliau terkenal killer. Tapi beliau hanya keras kepada anak yang malas-malasan kok, seperti saya. Terakhir Bu Hasniati. Beliau adalah guru saya di kelas satu dan kelas dua. Beliau sangat sabar menghadapi kami sekelas. Padahal menurut cerita dari kakak kelas Bu Has (begitu panggilan akrabnya) terkenla killer tetapi kami tidak pernah dimarahi oleh beliau kecuali jika kami mengeluarkan suara berisik.

Wah, akan sangat panjang sekali cerita saya tentang masa SD saya. Mungkin bisa saya bagi di lain kesempatan. Sebenarnya ide menceritakan pengalaman sewaktu duduk di bangku SD ini adalah rentetan dari PR blogger. Mas Nando lah yang memberikan PR kepada saya.Untuk selanjutnya saya harus memberikan PR ini ke 5 blogger lain. Padahal saya belum banyak blogwalking jadi belum banyak mengenal teman-teman blogger. Tapi saya akan meneruskan PR ini kepada Mas Dab, Agung Rangga, Aldi Forester, Abrar Statistician, dan Alimanvet. Ayo teman-teman dikerjakan PR nya.

22 thoughts on “Terserah Mama

    • hahaha, banyak kesamaan nih mas
      iya lah baru masuk, berarti mas bo masuk sd tahun berapa? tahun 90? udah lama juga ya hahaha
      kalau masalah jajanan iya mas, emang murah, tapi seingatku kelas dua udah naik kok jadi Rp 25, trus gitu tiap tahun sampe tamat sd harganya udah Rp 250 kalau ga salah

  1. menarik euy.. saya suka nyang beginian.,,

    SD masih dapet tuh gw mie goreng yang skrg harganya 6000 dulu cuma 50 perak….wkwkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s