Turun ke JALAN atau Turun ke LAPANG?


Dewasa ini persepsi masyarakat terhadap mahasiswa mengalami perubahan. Mahasiswa tidak lagi dianggap sebagai kaum intelek yang bisa menyalurkan aspirasi rakyat. Mahasiswa lebih terkenal sebagai tukang demo. Peran sebagai agent of change sepertinya hanya menjadi slogan belaka di mata masyarakat. Pemberitaan tentang tawuran mahasiswa akhir-akhir ini semakin memperburuk citra mahasiswa di masyarakat.

GUE MALES TURUN KE JALAN (DEMO)

Sementara pandangan masyarakat terhadap mahasiswa yang semakin  negatif, mahasiswa sendiri makin pragmatis menghadapi permasalahan. Masalah aksi turun ke jalan sendiri masih menjadi perdebatan di kalangan mahasiswa. Sebagian mahasiswa berpendapat bahwa dengan aksi kita telah menunjukka kepedulian terhadap rakyat. Ya, saya juga sependapat. Sebagian yang lainnya malah berpendapat bahwa turun ke jalan justru tidak mencerminkan mahasiswa. “Ngapain turun ke jalan?, lebih baik tidur atau ngerjain tugas”. “Mahasiswa kok anarkis?”. Mereka menolak keras aksi turun ke jalan. Mahasiswa berambisi untuk cepat lulus dan bekerja. Mereka beranggapan bahwa demo adalah membuang-buang waktu untuk sesuatu yang tidak berguna dan membahayakan jiwa. Padahal sebenarnya tidak demikian. Demo atau aksi turun ke jalan adalah salah satu cara untuk menyampaikan aspirasi rakyat. Salah satu bentuk kepedulian mahasiswa terhadap rakyat. Mahasiswa dituntut punya kepedulian sosial yang tinggi. Jangan lupa bahwa dana dari masyarakat juga digunakan untuk menunjang pendidikan mahasiswa. Jadi memang sudah sewajarnya jika mahasiswa dituntut memiliki kepedulian yang tinggi terhadap rakyat. Dari segi keilmuan pun kita dipandang sebagai kaum yang intelek. Artinya mahasiswa punya rasa sosial yang tinggi.

APA YANG SALAH DENGAN DEMO?

Lalu apa sebenarnya yang sedang terjadi?. Kenapa demo menjadi momok mahasiswa dan orang tua mahasiswa? Kenapa akhir-akhir ini mahasiswa dicap sebagai mahluk anarkis?. Ibu-ibu khawatir jika anaknya ikut demo. Ancaman pemutusan uang jajan pun sering dilontarkan orang tua kepada mahasiswa yang ikut demo. Apa yang salah dengan demo atau sering disebut turun ke jalan?. Ini sungguh dilema. Satu kata yang menurut saya menjadi akar dari permasalahan ini yaitu provokasi. Mahasiswa mudah sekali terprovokasi. Dan yang perlu dilakukan oleh mahasiswa adalah jangan gampang terprovokasi. Ini bisa dilakukan dengan membekali diri dengann berbagai ilmu pengetahuan. Ketidak tahuan membuat kita mudah terprovokasi. Sepertinya tidak perlu saya bahas disini tentang pihak-pihak yang menyalahgunakan nama mahasiswa. Pihak yang menggunakan mahasiswa untuk kepentingan mereka. Demo yang seperti itulah yang anarkis dan tidak mencerminkan sikap mahasiswa.

APA HARUS TURUN KE JALAN?

Kembali ke masalah tanggung jawab moral yang saya singgung di atas. Saya mengatakan bahwa mahasiswa wajib menyumbangkan sesuatu bagi rakyatnya. Dan untuk melakukannya tidak harus melulu turun ke jalan. Banyak cara yang lain. Di sini saya ingin mengetuk hati rekan-rekan mahasiswa yang masih mementingkan diri sendiri. Merasa acuh tak acuh dengan keadaan sekitar untuk melakuakn sesuatuu yang berguna bagi bangsa ini, apapun itu bentuknya. Ok mungkin aksi turun ke jalan lebih mudah disusupi pihak yang tidak bertanggung jawab. Tapi setidaknya anda bisa melakukan yang lainnya. Anda bisa berkarya lewat seni, lewat pemikiran, atau yang lain. Yang dituntut adalah kepedulian sosial kita sebagai mahasiswa.

TURUN KE LAPANG

Banyak jalan menuju roma. Begitu juga dengan cara kita berbuat untuk bangsa. Diantara cara yang banyak itu saya lebih suka dengan apa yang saya sebut turun ke lapang. Langsung terjun ke masyarakat dan mengaplikasikan apa yang kita dapat di bangku kuliah. Ikut merasakan apa yang mereka rasakan. Memberikan teknologi yang aplikatif atau tepat guna. Sudah banyak juga rekan-rekan mahasiswa yang melakukan aksinya dengan turun ke lapang.

Rasanya jika kita berbicara masalah tanggung jawab moral terhadap rakyat atau kepedulian sosial tidak lengkap jika kita tidak membicarakan nasionalisme.Kegiatan turun ke lapang yang saya ceritakan di atas akan mempertebal rasa nasionalisme kita. Kita akan menemukan rasa optimisme yang luar biasa justru dari kalangan rakyat kecil. Tidak seperti politisi yang selalu sibuk mencari siapa yang salah, mereka lebih realisitis. Mereka tidak butuh fasilitas apa-apa, para petani hanya berharap bisa bertani dan menjual hasil pertaniannya dengan layak, itu saja.

Marilah kita menjalankan fungsi kita masing-masing. Kepada para orang tua saya ingin mengatakan jangan khawatir akan kegiatan mahasiswa. Jika anda tidak suka anak anda ikut turun ke jalan, maka doronglah untuk melakukan hal lain untuk bangsa ini. Kepada rekan-rekan yang masih belum terpanggil hatinya untuk berbuat segeralah berbuat. Bangsa ini sudah tidak bisa menunggu lagi. Bangsa ini butuh aksi nyata dari kita. Terakhir marilah kita eratkan persatuan kita. Dengan begitu provokasi apapun tidak akan bisa memecah belah kita.

24 thoughts on “Turun ke JALAN atau Turun ke LAPANG?

  1. Seperti yang agan katakan, banyak jalan menuju Roma, banyak jalan untuk memajukan negeri ini. tentunya dengan kemampuan masing2 individu (mahasiswa)

    Hidup Mahasiswi….!!!! #eh

  2. gak ada yg salah dengan demo..sah2 aja klo mau demo..lagian klo turun ke lapang sesekali ga masalah. nikmati masa jadi mahasiswa. setidaknya sekali aja. *omongan mantan aktivis abal2 kyk ane jgn didengerin. ;D

  3. utk festival film eropa di jkt tempatnya di:

    Jakarta 4-11 November: Erasmus Huis, GoetheHaus, Istituto Italiano di Cultura, Institut Française Indonesia, Kineforum Jakarta Arts Council

  4. ya setidaknya jangan jd mahasiswa yg apatis sih.ga turun ke jalan jg gpp.tp punya mindset yg apatis dan mungkin berkembang sedikit kritis atau lebih solutif tanpa harus jd anarkis.media sosial saja bisa jd akses untuk itu loh sekarang..

    yg penting jangan jd apatis..
    jd inget kata seorang senior. minds are like parachute,they works best when opened

  5. wooow… kakakkkk…. keren… bener banget… demo hanyalah satu dari sekian banyak cara menyampaikan aspirasi, dan mungkin sampai saat ini masih menjadi pilihan sbg sarana shock terapi bagi pengambil keputusan… saya beberapa kali turun demo (dgn isu yg jelas dn tentu ngelia dulu siapa ygmeng inisialisasi). dan saya juga senang turun ke lapang semisal http://pararang.blogspot.com/2011/10/sebuah-malam-di-lpk-tepi-sawah.html

    hidup rakyat indonesia!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s