Hidup di Dua Dunia


Mau tidak mau saat ini kita harus hidup di dalam dunia yang berbeda. Bukan dunia Dunia Nyata yang fana dan Dunia Ghaib yang mistis, melainkan dunia maya. Bagaimana tidak, tanpa kita sadari Facebook dan twitter merupakan sesuatu yang tidak dapat kita pisahkan dari hidup kita. Sudah bukan sesuatu yang aneh jika seseorang yang sedang tergesa-gesa karena terlambat namun masih sempat meng-update status facebooknya “aduh, gw telat nih”. Sering juga kita membaca twit seorang anak yang sedang dinasehati oleh orang tuanya, bayangkan, sedang dinasehati kok  malah nge-twit?.

Memang tidak semua orang memiliki akun jejaring sosial seperti facebook atau twitter. Beberapa teman saya yang notabene mahasiswa juga ada yang keukeuh tidak mau membuat akun jejaring sosial apapun, bagi mereka e-mail dan milis sudah cukup. Tidak ada salahnya, karena itu merupakan kebebasan seseorang. Tetapi memang harus diakui jika jejaring sosial memberikan dampak yang luar biasa terhadap cara berkomunikasi, berinteraksi dengan orang lain. Saya punya pengalaman pribadi ketika abang saya pergi keluar negeri ayah saya langsung saya buatkan akun facebook untuk sarana berkomunikasi murah dengan abang saya. Selain itu jejaring sosial juga sebagai ajang unjuk diri, di jejaring sosial kita bisa mempromosikan siapa diri kita sebenarnya.

Jejaring sosial juga bisa menjadi penyedia informasi yang luar biasa. Saya merasakan sendiri hal itu, alur komunikasi yang biasanya menggunakan cara sms berantai sekarang sudah kalah cepat dengan informasi lewat facebook atau twitter. Itu sebagai salah satu contoh saja. Saya sendiri mengetahui berita tentang tewasnya Osama Bin Laden beberapa waktu lalu juga lewat twitter. Hal ini menandakan bahwa Internet sudah menjadi sesuatu yang sulit dipisahka dari kehidupan kita.

Seperti saya sebutkan di atas bahwa kita punya pilihan untuk hidup di dua dunia (dunia nyata dan dunia maya) atau hanya hidup di dunia nyata saja. Jika anda memilih untuk hidup di dua dunia yaitu dunia maya dan dunia nyata tentunya kita juga harus bisa menyesuaikan diri dengan dunia yang berbeda tersebut. Namun pada dasarnya kedua dunia ini memang berbeda. Dalam dunia maya kita diberi kebebasan yang sebesar-besarnya. Di dunia maya kita biasa membahas sesuatu yang mungkin di anggap tabu di dunia nyata. Negara kita (Indonesia) juga sudah menjamin kebebasan berinternet. Tetapi pada dasarnya dunia maya dan dunia nyata tidak jauh berbeda. Mengapa saya katakan tidak jauh berbeda? karena keduanya dihuni oleh mahluk yang sama yaitu manusia. Jika di dunia nyata atau di kehidupan sehari-hari kita terikta norma, bagaimana cara kita berbicara dengan orang tua dan lain-lain maka di dunia maya pun ada perturan seperti itu. Memang pada dunia maya atau internet peraturan itu seperti samar-samar. Karena tidak ada aturan baku tentang itu.

Aturan tentang kebebasan berinternet sudah sangat jelas dituangkan pada undang-undang. Tetapi aturan undang-undang merupakan batas atas dan batas bawah yang dapat diterima. Urusannya adalah melanggar peraturan dan terkena sanksi atau tidak melanggar hukum dan terbebas dari sanksi. Yang diatur adalah kasus ekstrim. Padahal dalam kehidupan baik di dunia nyata maupun di dunia maya yang dihuni oleh manusia penilaian tentang suatu hal bisa menjadi sangat subjektif. Tergantung orang yang menilai. Jika di dunia nyata kita sering mendengar kata-kata bijak “bebas tapi sopan” ada baiknya kita menerapkan hal serupa di kehidupan ber-internet atau kehidupan dunia maya. Mungkin kedengarannya aneh, selama ini internet dikenal sebagai ruang untuk menyampaikan unek-unek kita, menyampaikan inofrmasi. Memang benar demikian, tetapi tidakkah kita memikirkan orang lain yang juga memiliki kehidupan di dunia maya, dunia yang sama dengan kita.

Berbicara kesopanan berarti kembali berbicara tentang subjektivitas. Sesuatu yang dianggap sangat sopan oleh seseorang bisa jadi sesuatu yang sangat tidak sopan bagi orang lainnya. Atau sesuatu yang dianggap penghormatan oleh suatu kelompok tertentu bisa jadi dianggap sebagai suatu bentuk penghinaan oleh kelompok lainnya. Lalu bagaimana kita mewujudkan “bebas tapi sopan” dalam kehidupan beri-internet?.

Sebenarnya tidak sulit untuk mewujudkan “bebas tapi sopan dalam kehidupan berinternet”. Mengapa saya katakan tidak sulit? karena pada dasarnya yang kita hadapi di dunia maya juga manusia. Mahluk yang juga kita hadapi di dunia nyata. Untuk dapat berkata sopan dan tidak menyinggung orang lain kita bisa memposisikan diri kita sebagai orang yang kita ajak bicara. Seandainya kita akan marah jika ada orang yang mengatakan “a” demikian pada kita, maka jangan katakan “a” pada orang lain.

Kembali ke masalah subjektifitas. Dalam kehidupan dunia maya kita bisa berinteraksi dengan orang yang jumlahnya bisa berpuluh kali lipat jumlahnya bahkan lebih. Bagaimana kita bisa menjamin bahwatidak ada orang yang tersinggung dengan “twit” yang kita buat. Tentunya tidak ada jaminan seratus persen orang tidak tersinggung dengan perkataan kita di dunia maya. Tetapi percayalah, sesuatu yang diniatkan dengan baik maka akan menghasilkan sesuatu yang baik pula. Tetapi niat yang juga belum cukup untuk menghasilkan sesuatu yang baik. Hal lain yang harus dilakukan adalh menambah wawasan. Semakin luas wawasan kita maka akan semakin bagus cara bergaul kita.

Dari pemikiran-pemikiran di atas maka lahirlah suatu konsep yang sering digemborkan dengan nama Internet Sehat. Konsep bagaimana berinternet dengan cerdas sehingga memberikan manfaat baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Seperti yang kita ketahui bahwa setiap sesuatu mempunyai pasti mempunyai dampak negatif dan dampak positif, nah Internet Sehat adalah suatu usaha untuk meminimalkan atau menghilangkan dampak negatif dari ber-internet.

Internet sehat menurut saya merupakan suatu keharusan bagi orang yang memilih untuk hidup di dua dunia. Tanpa Internet Sehat tidak mustahil seseorang akan terbelit masalah. Masalahnya bisa bermacam-macam, mulai dari kecanduan internet yang berlebihan sampai masalah hukum. Jadi persiapkan diri anda untuk hidup di dua dunia, yaitu dunia maya dan dunia nyata.

4 thoughts on “Hidup di Dua Dunia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s