Susahnya dipanggil “Abang”


Abang adalah panggilan untuk laki-laki yang lebih tua. Saya rasa panggilan “abang ” di indonesia merupakan panggilan yang universal, maksudnya tidak identik milik suku tertentu seperti “uda” adalah panggilan laki-laki yang lebih tua pada adat minang dan lain-lain. Meskipun “abang” kadang memiliki konotasi yang berbeda. “Abang” dapat memiliki konotasi sebagai penjual, misalnya “abang bakso” artinya penjual bakso, “abang cendol” maksudnya penjual cendol.

Intinya panggilan abang adalah menunjukkan bahwa yang kita hadapi adalah orang yang lebih tua dari kita. Mengenai kata “tua” dan “abang” ada sesuatu yang sangat menarik menurut saya. Menjadi seseorang yang dipanggil abang menandakan kita telah menjadi tua (bertambah tua) atau menjadi yang dituakan. Sekilas dengan panggilan “abang” kita  akan terlihat berwibawa. Tetapi di balik kewibawaan itu sesungguhnya ada suatu konsekuensi yang sebaiknya kita patuhi, walaupun tanpa kita patuhi juga tidak berdampak terlalu besar menurut saya.

Saya sendiri adalah anak kedua dari dua bersaudara. Walaupun saya lebih suka di sebut sebagai anak kedua tetapi saya adalah seorang anak bungsu. Dengan semua sifat khas anak bungsu akhirnya saya sampai di suatu keadaan dimana saya dipanggil “abang”. Jujur awalnya saya bangga. Panggilan abang seperti sebuah pengakuan bahwa saya sudah cukup senior. Dalam fikiran saya, saya akan jadi orang yang dihormati. Ternyata pada kenyataannya tidak sesederhana yang kami bayangkan. Untuk menjadi seorang senior dan apalagi seseorang yang dihormati diperlukan pengorbanan yang luar biasa.

Wah, kok sepertinya saya terlihat seperti orang yang sangat ingin dihormati, bukan, maksud saya bukan saya ingin dihormati, tetapi untuk menjadi seseorang yang dihormati dibutuhkan niat yang tulus dan pengorbanan yang luar biasa. Saya belajar hal ini setelah kedatangan adik-adik saya angkatan 48 IPB yang berasal dari satu daerah dengan saya. Seperti biasa saya selalu menjemput mereka dan melayani mereka layaknya keluarga saya. Tetapi kedatangan adik-adik saya kali ini terasa begitu istimewa. Padahal jika dipikir-pikir ini sudah kali ke-4 saya menjemput mereke, mencarikan penginapan, mnegurus akomodasi mereka. Seharusnya saya sudah terbiasa melakukan hal ini. Tetapi saya merasa tahun ini adalah tahun terberat dalam penjemputan mahasiswa baru. Terlepas dari sistem penerimaan mahasiswa baru yang berbeda dengan tahun sebelumnya kali ini saya menjadi orang yang paling tua diantara rekan-rekan mahasiswa satu daerah saya.

Dengan kejadian itu saya teringat nasihat mama saya tentang hidup. Menurut beliau untuk menjadi “tua” (orang yang dituakan) harus memenuhi tiga syarat yaitu sembur, tuturdan  wuwur. Sembur  mempunyai maksud bahwa orang yamg dituakan harus bisa memberikan arahan yang benar, harus berani mengatakan yang benar itu benar dan yang salah itu salah. Harus berani melarang jika yang muda berbuat menyimpang dan tentu saja harus bisa melindungi yang muda. Kemudian tutur  mempunyai maksud yang tua harus mampu memberikan naishat bagi yang muda, tentu saja nasihat tersebut juga harus kita tunjukkan dengan perbuatan kita. Yang tua harus cakap berbicara sehingga wibawa yang tua dapat terpancar dan memberikan pengaruh positif bagi yang muda. Yang terakhir yaitu wuwur bermakna yang tua harus bisa memberikan materi kepada yang muda. Setelah kita melaranga mereka ketika mereka berbuat salah, mungkin memarahi mereka, kemudian kita menasehati mereka bagian selanjutnya yang tak kalah penting adalah kita mentraktir mereka. Loh,  kenapa harus menraktir? sebenarnya juga tidak harus mentraktir, ini hanya sebagai contoh. Intinya kita jangan cuma bisa memarahi dan menasehati mereka, tetapi kita juga harus bisa memberikan bantuan yang nyata ketika mereka dalam keadaan yang sulit.

Pada akhirnya saya sadar, bahwasannya saya masih oerlu banyak belajar untuk menjadi seseorang yang benar-benar pantas dipanggil “abang”. Saya sudah tidak bisa memilih untuk tidak dipanggil abang. Inilah saatnya saya sedikit membalas kebaikan “abang-abang” saya dulu yang selalu sabar mengajari saya.

Agung Sudomo (Mahasiswa FKH IPB, aktif dalam Organisasi Mahasiswa Daerah (OMDA) IMAKUSI Bogor)

sunber gambar

8 thoughts on “Susahnya dipanggil “Abang”

  1. Yap, usia memang berlalu bagai angin, seringkali nggak terasa sudah lewat banyak hehe. Semoga bisa selalu maju, Bang😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s