Aku Rindu (sekaligus malu) kepada IBU KITA KARTINI


 

 

 

 

IBU KITA KARTINI

WR. Supratman

Ibu kita kartini putri sejati

Putri Indonesia harum namanya

Ibu kita Kartini pendekar bangsa

Pendekar kaumnya untuk merdeka

Wahai ibu kita Kartini putri yang mulia

Sungguh besar cita-citanya bagi Indonesia

“habis gelap terbitlah terang”


Tentunya kita sudah tidak asing lagi dengan nama R. A. Karttini. Beliau adalah salah satu tokoh emansipasi wanita yang sudah sangat melgenda. Perjuangannya dalam memperjuangkan wanita pada kala itu patut kita tiru.

Kegigihannya dalam memperjuangkan wanita membuahkan hasil yaitu dengan di bangunnya sekolah untuk wanita. Pada awalnya yang boleh duduk di bangku sekolah hanyalah kamu pria saja.

RA Kartini terkenal sangat tekun, beliau rajin membaca dan menulis. Beliau terkenal pandai dalam bidang bahasa. Namun karena pada saat itu wanita apabila sudah dewasa harus dipingit maka RA Kartini tidak bisa melanjutkan sekolahnya. Tapi beliau tidak lantas putus asa. Dengan kemauan yang keras beliau terus belajar. Selain itu beliau juga menulis surat kepada rekan-rekannya di Belanda. Beliau tertarik kepada kemajuan cara berfikir orang-orang Eropa pada saat itu.

Setelah RA Kartini wafat, Mr J H Abendanon mengumpulkan dan membukukan surat-suratyang pernah dikirim oleh RA kartini pada teman-temannya di eropa. Buku itu diberi judul “Door Duisternis tot Licht” yang mempunyai arti “Dari Kegelapan Menuju Cahaya”.

Sekarang perjuangan RA Kartini tentunya sudah usai. Saatnya perjuangan itu dilanjutkan oleh generasi muda. Tidak harus seperti RA Kartini, tapi kita harus menyalakan semangat perjuangan kita. Banyak kata-kata bijak yang menyebutkan bahwa kewajiban generasi muda adalah melanjutkan pejruangan. Lalu apa yang sudah kita lakukan untuk melanjutkan perjuangan itu?. Sudahkah kita mengisi kemerdekaan yang diperjuangkan oleh para pahlawan?. Kita bahkan sudah menikmati indahnya emansipasi wanita yang diperjuangkan oleh RA Kartini. Di zaman yang serba canggih ini seharusnya kita bisa membuat sesuatu yang berguna bagi bangsa, setidaknya untuk diri kita sendiri. Bayangkan jika dulu RA Kartini harus berkirim surat untuk berkomunikasi dengan teman-temannya di Eropa, sekarang kita tinggal menekan sebuah tombol saja bisa langsung terhubung dengan siapa saja dan dimana saja di planet ini. Banyak sekali fasilitas yang membuat kita terhubung dengan dunia. Sebut saja Facebook, twitter, atau apalah.

Disini saya tidak mengklaim bahwa generasi sekarang tidak mempunyai semangat perjuangan. Saya yakin akan selalu ada RA Kartini yang lain. Saya hanya ingin mengajak kita semua untuk mengenang kisah heroik para pejuang. Tentunya karena bertepatan dengan hari Kartini maka saya mengangkat cerita tentang RA Kartini. Pada akhirnya marilah kita terus bersemangat untuk terus berbuat yang terbaik untuk negeri ini. Terutam untuk para teman-teman blogger, yakinlah bahwa tulisan kita akan memberikan pengaruh positif bagi setiap pembacanya.

Salam!

8 thoughts on “Aku Rindu (sekaligus malu) kepada IBU KITA KARTINI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s