Baik, tapi terpaksa….


“Ga papa lah, kan ga ada dia”

Saya seringkali kesal mendengar pernyataan itu. Terkesan orang yang melakukan pekerjaan itu karena terpaksa oleh suatu hal. Setahu saya sesuatu yang dilakukan karena terpaksa akan menghasilkan sesuatu yang tidak baik. Lalu apakah sesuatu yang baik akan tetap baik jika dilakukan dengan terpaksa?. Menurut saya hal baik akan tetap jadi hal baik walaupun dilakukan dengan terpaksa.

Lalu apa masalahnya jika hal baik dilakukan dengan terpaksa? toh hal itu juga tetap dianggap baik oleh orang lain, dan memang hal baik akan tetap jadi hal baik. Sebelum saya menjawab pertanyaan itu saya ingin bercerita tentang kejadian yang pernah saya alami. Pagi itu saya kuliah seperti biasa, yang membedakan adalah dosen yang mengajar yang tidak berasal dari fakultas kami. Biasanya jika hendak meninggalkan ruangan kami tidak perlu minta izin kepada dosen yang sedang mengajar dengan alasan akan mengganggu konsentrasi dosen. Walaupun tidak semua dosen membenarkan hal tersebut. Dan beberapa dosen juga akan marah jika kami keluar tanpa meminta izin terlebih dahulu. Akhirnya kuliah pun berjalan sampai beberapa orang teman saya keluar ruangan untuk ke kamar kecil walauapun tidak semuanya ke kamar kecil. Alasan mereka kelura juga bermacam-macam, ada yang ke kantin, atau punya urusan lain. Ternyata hal ini merupakan hal yang sangat luar biasa bagi dosen tersebut. Sampai akhirnya dosen tersebut bertanya “apakah kalian tidak tahu etika bagaimana cara meninggalkan kelas?”. “Apa memang di fakultas ini tidak ada etika seperti itu?”. Terus terang saya kaget mendengar pertanyaan tersebut, karena selama ini fakultas saya terkenal mahasiswanya paling sopan. Hampir di setiap sudut kampus dipasang himbaun agar membudayakan 5S (senyum, salam, sapa, sopan dan santun). Bentuknya bermacam-macam, mulai dari poster, stiker, spanduk dengan disain yang sangat menarik. Tidak jarang bagi kami mendapatkan pujian tentang sopan santun dan etika. Selama ini kami selalu dijadikan contoh mahasiswa yang sopan dan beretika. Lalu apa yang sebenearnya terjadi hingga dosen tersebut mengatakan sesuatu yang membuat telinga kami panas? sesuatu yang sangat tidak enak untuk didengar.

“apakah kalian tidak tahu etika bagaimana cara meninggalkan kelas?”. “Apa memang di fakultas ini tidak ada etika seperti itu?”

Jika melihat persoalan ini, wajar jika mahasiswa tidak meminta izin karena takut mengganggu konsentrasi dosen. Atau dosen tersebut belum mengetahui kebiasaan mahasiswa dan tidak menetahui alasan kenapa mahasiswa melakukan hal tersebut. Terlepas dari itu semua, saya berpikir apakah selama ini kami melakukan hal baik dengan menerapkan 5S tidak didasari dengan keikhlasan. Dengan kata lain kesopanan dan etika yang kami tunjukkan selama ini adalah akibat dari paksaan. Jika berbicara tentang paksaan, boleh dibilang fakultas saya adalah fakultas yang paling banyak aturannya.  Aturan pakaian, aturan cara duduk, aturan harus mengucapkan salam, dan aturan-aturan lain yang tidak ditemui pada fakultas lain. Dan jika ada aturan yang kami langgar, maka sanksi yang sangat tegas sudah menunggu kami. Sanksinya dapat berupa membuat makalah tentang etika, membuat poster tentang budaya 5S, dan yang paling berat diskors. Akibatnya tidak ada satupun mahasiswa yang berani melanggar peraturan tersebut. Sisi baiknya kami sangat patuh dengan peraturan. Sisi negatifnya, kami patuh terhadap peraturan jika ada yang mengawasi. Menurut saya belum ada cukup kesadaran untuk melakukan hal baik ini. Sebagai buktinya sampai terjadi hal yang seperti ini. Contoh lain adalah ketika saya mendapat sms untuk datang lebih awal karena jam pertama kuliah akan diisi oleh dosen yang tidak toleran terhadap keterlambatan. Memang tidak ada yang salah dengan sms tersebut, sms tersebut bertujuan mengingatkan. Yang salah adalah kenapa harus dengan dosen tertentu? kenapa tidak semua kuliah diingatkan untuk berangkat lebih awal?. Dari kejadian-kejadian itu terlihat kepatuhan itu muncul ketika ada paksaan.

“dipaksa aja ga dilaksanakan, apalagi ga dipaksa”

Dari tulisan ini saya ingin mengajak untuk melakukan sesuatu dengan ikhlas. Ada yang berpendapat seperti ini “dipaksa aja ga dilaksanakan, apalagi ga dipaksa”. Pernyataan itu tidak sepenuhnya salah. Tetapi menurut saya hanya orang yang tidak mau berfikir yang mau terus-terusan dipaksa. Sebagai mahasiswa yang intelek pastinya tidak termasuk orang yang harus selalu disuruh. Marilah kita melakukan hal yang baik ini karena kita ingin melakukannya. Jangan karena ada “ini” ada “itu”. Hidup Mahasiswa!

2 thoughts on “Baik, tapi terpaksa….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s